Newest Post
Kioku Introduction
Episode 2 – Makio Namikaze
image of Makio Namikaze. Jika kalian ingin tahu seperti apa penampilan dari Makio, bayangkan saja Azusa Kinose dari starry sky. Waa... cute >,<
Tirai panggung terbuka dan music mulai dimainkan. Para
karakter Kioku duduk dengan santai di atas panggung.
Takano: ‘halo selamat datang!’ melambaikan tangan.
Popuri: ‘selamat datang.’
Sebenarnya mereka ngomong sama siapa sih >,<
Sharie: ‘selamat datang di Kioku introduction episode 2!’
Aerish: ‘kali ini siapa yang akan melakukan introduction?’
tengok kanan kiri.
Makio: mengangkat tangan
tinggi-tinggi. ‘aku, aku aku!’ seperti biasa
heboh sendiri.
Popuri: ‘Ah, jadi sekarang giliran Makkun. Lalu kapan
giliranku?’
Sharie: ‘sabarlah Poo-chan, kau bisa mengantri untuk episode
selanjutnya.’
Ryuko: ‘setidaknya episode ini dipersiapkan dengan damai.’
Melirik sinis ke arah Nakahara.
Sharie: ‘ya mengingat kekacauan episode sebelumnya.’
Merinding karena mengingat kejadian di episode perdana.
Nakahara: ‘tapi aku masih penasaran, sejak kapan Takano mengikuti
les piano?’ *baca episode
sebelumnya.
Takano: ‘mm… surprise! aku memang sengaja tidak memberitahu
kalian.’ Keliatan banget bohongnya.
Makio: ‘jadi kapan introductionnya akan dimulai?’
cemberut.
Aerish: ‘duh, sampai lupa. Kita mulai saja. Makio-kun silahkan
perkenalkan dirimu.’
Makio: ‘ok, ehem… namaku Makio Namikaze, dozou yorishiku.’
Melambaikan tangan. ‘seperti yang kalian lihat. Aku
anak laki-laki. Aku suka makan dan sangat jago di bidang IT, seperti yang bisa
kalian baca Reunion Bloody island. Di situ aku cukup berguna bukan? Dan…umm…’
berfikir. ‘aku bingung’ menyerah.
Aerish: ‘kenapa Makio-kun?’
Makio: ‘aku tidak tahu apa yang harus dikatakan.’
Sharie: ‘he? tidak biasanya Makkun kehabisan kata-kata.’
Popuri: ‘apa karena kau gugup?’
Nakahara: ‘mana mungkin, dia kan tidak tahu malu’ santai. Ryuko
manggut-manggut.
Takano: ‘Mungkin kita bisa memberi sedikit bantuan padanya.’
Makio: ‘maksudnya?’
Takano: ‘seperti Nakahara, kita buat menjadi sesi tanya jawab
saja.’
Aerish: ‘yah, itu ide yang bagus.’
Popuri: ‘kalau begitu aku yang pertama bertanya.’
Sharie: ‘ah, kenapa Poo-chan terus yang mendapat giliran
pertama?’
Popuri: ‘karena pertanyaanku lebih menarik darimu, tapi jika kau
memang mau ya sudah kau saja dulu.’
Aerish: ‘ya, kau bisa bertanya duluan Sharie-chan.’
Sharie: ‘Yay! Mm… aku ingin bertanya, umm… apa hobby mu
Makkun?’
Popuri: ‘see, pertanyaanmu terlalu mainstream.’
Takano: ‘tidak masalah. Nah, sekarang Makky jawab pertanyaan Sharie.’
Makio: ‘seperti yang aku bilang sebelumnya, aku sangat suka
makan.’
Ryuko: ‘tapi kami bertanya tentang hobbymu. Apa yang biasa kau
lakukan di waktu luang.’
Makio: ‘aku rasa sama saja. Aku memang suka makan di waktu
luangku.’
Takano: ‘di otakmu memang hanya ada kata makan saja.’
Popuri: ‘tapi kenapa makkun tidak gemuk ya? Padahal dia makannya
banyak.’
Nakahara: ‘mungkin ada cacing di perutnya.’
Makio: ‘tentu saja tidak! Ini hanya bawaan gen saja.’
Sharie: ‘wah, menyenangkan sekali ya jadi Makkun. Bisa makan
banyak tanpa perlu khawatir jadi gemuk.’
Nakahara: ‘jika kau mau seperti dia, masukan saja cacing pita ke
dalam perutmu itu.’
Sharie: ‘ck, seperti biasa komentarmu sangat tidak menyenangkan,
A-chan.’
Takano: ‘Giliranku. Makky, bisa kau ceritakan mengenai peranmu
dalam seri Kioku?’
Makio: ‘sebenarnya aku tidak ingin membahas tentang hal itu.’
Aerish: ‘he? kenapa?’
Makio: ‘aku hanya mendapat peran kecil di setiap seri!’ sambil
menutup muka.
Ryuko: ‘peran kecil katamu? Berbanggalah sedikit, merupakan sebuah
kehormatan besar bisa berperan sebagai sahabat Ryuko dalam seri Wasureta Kioku.’
Makio: ‘aku sama sekali tidak menemukan alasan untuk berbangga.’
Datar.
Sharie: ‘aku mengerti perasaanmu.’
Popuri: ‘yah, aku juga.’
Ryuko: ‘cih, apa-apaan mereka?’
Aerish: ‘aku rasa kita sedang di serang.’ Berbisik pada
Ryuko.
Takano: ‘Aku juga sering berfikir, kenapa harus kalian bertiga
(read: Ryuko, Aerish, Nakahara) yang selalu menjadi peran utama di setiap seri
Kioku? Bahkan di side story pun kalian masih yang utama.’
Ryuko: ‘karena kami karakter favorite para author.’
Aerish: ‘Lagipula bukankah kau juga pernah jadi pemeran utama di
Kioku side story, Makio-kun. Judulnya… umm aku lupa.’
Ryuko: ‘password of love’
Aerish: ‘ah, iya benar itu judulnya.’
Makio: ‘itu hanya satu episode!’
Aerish: ‘tapi tetap saja, kau sudah pernah dapat peran utama
kan.’
Makio cemberut.
Nakahara: ‘yah, seperti biasa kalian memang selalu ber lovey dovey.’ Datar sambil
ngitungin semut yang lewat.
Makio&Aerish: ‘ha?’
Sharie: ‘kau benar A-chan. Mereka terlihat sweet sekali saat
berdebat.’
Popuri: manggut-manggut. ‘mereka memang best couple di Kioku.’
Aerish: ‘itu tidak benar!’
Takano: ‘semakin kau mengelak semakin terlihat jelas
kenyataannya, Aerish.’
Aerish: ‘aku bilang itu tidak benar. Coba saja kalian baca Hakai
no Kioku. Di situ diceritakan aku dekat dengan Eunhyuk.’
Makio: ‘ck, bagaimana aku mau baca kalau serinya saja belum
selesai sampai sekarang.’
Popuri: ‘sudah, akui saja Aeri-chan. Kami pasti akan merestui
kalian.’
Takano: ‘he… lihat, wajahnya memerah.’
Aerish: ‘wajahku memerah karena kesal, tidak ada hubungannya
dengan Makio-kun. Lagi pula ending dari Hakai no Kioku kan aku akan bersama
dengan... mb’ cepat-cepat menutup mulut dengan tangan.
Sharie: ‘bagaimana endingnya?’ penasaran.
Aerish: ‘fuh, hampir saja aku membocorkan ending dari Hakai no
Kioku. Aku tidak mau cerita lagi.’ Ngambek.
Makio: ‘jadi benar, Aerish memang bipolar.’
Aerish: ‘apa maksudmu?’
Takano: ‘kau tidak ingat? Saat menjelang ending di seri Bloody
Island, kau terlihat sangat berbeda Aerish.’
Nakahara: ‘Ah, benar. Dia memerintahku ini dan itu. Menakutkan.’
Walau begitu tidak terlihat sedikitpun ekspresi ketakutan di wajah Nakahara. Sebenarnya
tidak ada ekspresi sama sekali.
Aerish: ‘itu hanya tuntutan peran saja. Sebenarnya aku ini sangat
lembut.’
Popuri: ‘hah, sejak kapan kau jadi narsis begini?’
Aerish: ‘Sudahlah, ini kan episode untuk Makio-kun. Jadi bisa
kita kembali ke jalan yang benar.’
Popuri: ‘kau pikir kami sedang tersesat apa.’
Sharie: ‘ha? Memang kita sedang tersesat ya?’
GUBRAK
Takano: ‘tidak usah pedulikan Sharie. Mari kita lanjutkan.’
Popuri: ‘Aeri-chan, apa kau tidak ingin bertanya sesuatu?’
Aerish: ‘mm… aku bingung harus tanya apa ya…’
Ryuko: ‘mungkin kau bisa bertanya apa dia mau jadi pacarmu.’
Aerish: ‘Ryuko-chan! Jangan mulai lagi!’
Ryuko: ‘apa? Aku kan hanya memberikan saran.’
Popuri: ‘pfft… memang sangat menyenangkan menggodamu Aeri-chan.’
Aerish: ‘aku mau pulang saja.’ Melangkah menjauh dengan
kesal tapi kemudian di tahan oleh Sharie.
Sharie: ‘Waa… jangan marah Aeri-chan, kami tidak akan menggodamu
lagi.’ Menyeret Aerish kembali ke tempat duduknya
Takano: ‘sejak kapan dia jadi ngambekan?’ berbisik pada
Makio.
Makio: ‘mana aku tahu.’ Angkat bahu.
Popuri: ‘baiklah, kembali ke jalan cerita. Aku ingin bertanya mengenai
hal serius, dari kami berenam, jika ada suatu keadaan darurat terjadi padamu, siapa
yang pertama kali kau hubungi?’
Sharie dan Aerish pasang wajah serius.
Makio: ‘mm..’ berfikir. ‘mungkin
Takky.’
Takano: ‘sweet.’
Sharie: ‘he? kenapa Takky?’
Makio: ‘karena dia sahabatku.’
Popuri: ‘lalu kami ini apa?’
Makio: ‘kalian juga sahabatku, tapi aku dan Takky itu berbeda.’
Ryuko: ‘ck, aku curiga dengan hubungan kalian berdua. Jangan-jangan…’
Makio: ‘NOOOO!!! Jangan berfikiran yang macam-macam.’
Ryuko: ‘aku kan belum selesai.’
Makio: ‘tidak perlu diselesaikan aku sudah tau apa yang ada di
otakmu itu.’
Popuri: ‘kalau begitu jelaskan apa perbedaannya.’
Makio: ‘seperti yang kalian lihat, dari kita bertujuh hanya Takky
dan aku yang laki-laki. Kalian semua memang sahabatku, tapi mengertilah. Ada beberapa
hal MANLY yang tidak bisa kubicarakan dengan kalian para gadis-gadis. Jadi mau
tidak mau pilihanku jatuh pada Takky.’
Popuri: ‘bagaimana jika hal urgent itu tidak ada hubungannya
dengan gender? Apa kau kau tetap akan pilih Takky?’
Makio: ‘yup.’
Sharie: ‘Booo….’
Makio: ‘tapi serius. Aku tidak mungkin memilih Ryuko, karena
apa? Jika aku melibatkan Ryuko dalam situasi yang sulit aku akan berurusan
dengan Ashihara senpai atau Kiryu senpai. Bukannya aku takut, aku hanya cinta
damai.’
Ryuko: ‘mereka bukan orang seperti itu.’
Makio: ‘aku tidak mau ambil resiko.’
Aerish: ‘lalu bagaimana dengan aku, Sharie-chan dan Poo-chan?’
Makio: ‘Poo-chan itu orang yang sibuk. Jika aku menghubunginya
di saat genting, bisa saja dia sedang melancong ke negeri antah berantah. Aku rasa
aku akan kerja dua kali nantinya.’
Sharie: ‘lalu aku?’
Makio: ‘sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi
karena kau bertanya… mau tidak mau aku akan menjelaskan. Alasan kenapa aku
tidak menghubungi Sharie di saat genting kalian pasti juga sudah tahu. Bayangkan
saja, aku dalam situasi sulit harus bersusah payah menjelaskan situasiku yang
pasti tidak dimengerti oleh Sharie dengan sekali ucap. Bisa-bisa aku kehabisan
waktu.’
Yang lain manggut-manggut setuju.
Sharie: ‘Aish.’
Makio: ‘dan Aerish, situasinya hampir mirip dengan Ryuko. Aku tidak
mau berurusan dengan Eunhyuk. Dia itu agak sedikit menyebalkan.’
Aerish: ‘dan A-chan? Apa juga karena Fujiwara-senpai?’
Makio: ‘Ah, kalau dia… ini tidak ada hubungannya dengan Fujiwara
senpai. Kalian tahu kan bagaimana Nakahara, dia suka seenaknya sendiri. Jika aku
menghubunginya di saat genting, belum tentu dia peduli, kalaupun iya dia bisa
saja memutuskan sambungan di tengah percakapan dan tamatlah riwayatku.’
Takano: ‘jadi intinya, karena tidak ada yang lain, mau tidak mau
aku yang dipakai?’
Makio: ‘mungkin haha….’
Aerish: ‘mm… ngomong-ngomong soal A-chan, kenapa dari tadi aku
tidak mendengar suaranya?’ tengok kanan kiri.
Sharie: ‘ah, benar. Pantas dari tadi aku tidak merinding.’
Popuri: ‘kau pikir dia hantu.’
Ryuko: ‘memang mirip.’
Sharie cs cari-cari keberadaan Nakahara.
Ryuko: ‘What the….’ Melihat ke pojokan panggung. Nakahara
sedang tertidur pulas.
Sharie: ‘apa dia sedang tidur?’
Aerish: ‘sepertinya iya.’
Popuri: ‘bisa-bisanya dia tidur dalam keadaan begini.’
Makio: ‘sudah kubilang, dia memang suka seenaknya sendiri.’
Aerish: ‘apa kita harus membangunkannya?’
Takano: ‘sebaiknya tidak.’
Ryuko: ‘hm, kita tutup saja acaranya lalu tinggalkan dia sendiri
di sini. Bila perlu kunci pintunya agar dia tidak bisa keluar. Mungkin seseorang
akan menemukan mayatnya besok.’
Sharie: ‘rencanamu sangat kejam Ryu-chan.’
Takano: ‘Baiklah kalau begitu, kita tutup saja acaranya.’ Sepertinya
Takano setuju dengan rencana Ryuko.
Makio: ‘ terima kasih sudah mengikuti introduction episode ku
kali ini!’
Aerish: ‘maaf jika banyak pembicaraan yang melenceng’
lirik yang lainnya.
Sharie: ‘aku harap episode tiga bisa segera dikerjakan.’
Popuri: ‘sudah-sudah, ayo cepat kita keluar dari sini sebelum
A-chan bangun.’ Satu lagi yang setuju dengan rencana Ryuko.
Semuanya bergegas berdiri dan pergi menuju pintu keluar
sebelum langkah mereka terhenti karena sebuah suara.
Nakahara: ‘hm…*yawn*’ bangun dari tidur, kucek-kucek mata,
bangkit berdiri kemudian berjalan menuju pintu keluar dan pulang.
Krik krik krik… yang lain hanya terdiam menyaksikan adegan
berdurasi 53 detik itu.
Ryuko: ‘Dam*, kenapa dia bangun disaat yang tepat.’
Popuri: ‘aku rasa rencana kita gagal.’
Takano: ‘sudahlah, aku mau pulang.’
Dengan sedikit kecewa mereka pulang…
-BYE-
Tag :// story
Kioku introduction
Atsuko
Nakahara
image of Nakahara. jika kalian ingin membayangkan seperti apa Nakahara, bayangkan saja Ai Enma dari Jigoku Shoujo. seram tapi tetap sexy fufufu
LETS START!!
Layar panggung terbuka musik mulai
dimainkan. Nakahara duduk terikat di tengah panggung. Ha? Terikat?
Makio, Takano, Aerish, Popuri, Sharie dan
Ryuko berdiri mengelilingi Nakahara.
Tag :// story
Title : Kioku Reunion ~ Bloody Island~
Author : Uchiha Ryuko, Nakahara Ningsih, Aerish Lee
Genre : Comedy / Adventure/Mystery
Summary : Ryuko, Nakahara, Aerish dan 4 temannya
semasa sekolah bertemu kembali dalam liburan yang tak terduga. Mereka pikir
liburan di Bloody Island akan menjadi liburan yang tenang dan mengasyikan. Tapi
yang menunggu mereka adalah liburan yang penuh dengan masalah.
Chapter 11
Ryuko hanya bisa mengeluh ketika ia kembali
menginjakan kakinya di ruangan nista itu. Kali ini tidak diperlukan golden card
karena pintu keajaiban terbuka dengan lebar. Anehnya, ruangan itu sudah
terlihat lebih mewah dari sebelumnya. Peti mati tua yang mencurigakan itu pun
sudah terlihat sangat mewah karena berhiaskan bunga-bunga. Dan entah sejak
kapan, ada sebuah altar besar di ruangan itu.
Tag :// story
Title : Kioku Reunion ~ Bloody Island~
Author : Uchiha Ryuko, Nakahara Ningsih, Aerish Lee
Genre : Comedy / Adventure/Mystery
Summary : Ryuko, Nakahara, Aerish dan 4 temannya
semasa sekolah bertemu kembali dalam liburan yang tak terduga. Mereka pikir
liburan di Bloody Island akan menjadi liburan yang tenang dan mengasyikan. Tapi
yang menunggu mereka adalah liburan yang penuh dengan masalah.
Chapter 8
NORMAL
POV
“Makio, tepat waktu!”
Dengan cepat Aerish segera menarik Makio dan menutup pintu.
“Apa? Ada apa?” tanya
Makio kebingungan.
“Aku membutuhkanmu, ah
maksudku golden card imitasimu,” jawab Aerish cepat.
Tag :// story
A Combination Project with Nakahara Ningsih and Lee
Diah
Title : Kioku Reunion ~ Bloody Island~
Author : Uchiha Ryuko, Nakahara Ningsih, Aerish Lee
Genre : Comedy / Adventure/Mystery
Summary : Ryuko, Nakahara, Aerish dan 4 temannya
semasa sekolah bertemu kembali dalam liburan yang tak terduga. Mereka pikir
liburan di Bloody Island akan menjadi liburan yang tenang dan mengasyikan. Tapi
yang menunggu mereka adalah liburan yang penuh dengan masalah.
Chapter 5
Ryuko POV
“Ryuko! Kau ada di dalam kan?” ujar sebuah suara sambil terus
menggedor pintu kamarku.
“Ada apa?” tanyaku kesal ketika mendapati Aerish
yang berdiri di balik pintu itu.
“Ryuko, aku punya berita bagus,” ujar Aerish
berbinar-binar. Aku hanya mengerutkan alisku, meminta Aerish memperjelas
ucapannya. Kemudian ia menceritakan
bahwa Karina akan memberikan patung-yang diduga sebagai senjata untuk melukai
Yuuki- itu dengan syarat aku bersedia menemuinya dan bersedia menjamin keamanan
hingga grand opening.
“Aerish, apa kau tidak punya cara lain untuk
mendapatkan informasi dari si Karina itu tanpa melibatkan aku?” keluhku. Secara
tertulis aku memang perwakilan dari
InterSEO, tapi aku bukanlah manusia super yang bisa menjamin keamanan di
Bloody Island sendirian. Lagipula siapa yang bilang aku ini bagian InterSEO?
Semua itu hanya asumsi!
“Aku rasa tidak ada cara lain Ryuko. Ayolah, ini
satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan bukti itu,”
“Sigh. I have
no choice. Aku akan menemui miss Karina satu jam lagi,” ucapku pasrah.
“Sementara itu... aku ingin kau memastikan Nakahara agar tak menimbulkan
masalah,”
“Baiklah,” jawab Aerish. “Ryuko, jangan lupa segera
beritahu kami begitu kau mendapatkan bukti-“
Tanpa mempedulikan Aerish yang masih di depan pintu,
aku langsung menutup pintu itu tanpa dosa. Tidak sopan? Hah, siapa suruh kau
membangunkan demon yang sedang tertidur. Im
not a morning person, you know???!
Sebelum menuju kamar Karina, aku mampir ke kamar
Takano dan Makio untuk mengambil imitasi Golden Card yang kuminta.
“Jadi bagaimana? Kau berhasil membuat berapa?”
tanyaku sambil mengikuti Makio menyusuri kamarnya dan juga Takano yang terlihat
seperti hutan belantara.
“Well, golden card ini lebih rumit dari yang kukira.
Menurut Nakahara, kartu ini bisa digunakan untuk membuka tempat-tempat khusus
di Bloody Island. Di dalamnya banyak data2 aneh yang tak kumengerti. Mungkin,
kartu imitasi ini hanya bisa digunakan dua kali untuk membuka tempat yang hanya
bisa dibuka oleh Golden card. Dan kami berhasil membuat tiga buah,” jelas
Takano sambil memberiku tiga golden card palsu.
“Well, its
more than enough. Thanks,”jawabku singkat.
“Hei, apa yang kau rencanakan dengan kartu palsu itu?”
tanya Makio penasaran.
“Hmm, nanti kau juga tahu. Ah, sebaiknya kau
kembalikan golden card yang asli pada Nakahara. Dia akan membutuhkannya,”
ujarku singkat sambil pergi meninggalkan Takano dan Makio yang masih
kebingungan.
Aku segera berjalan menuju kamar Karina untuk
berbicara dengannya. Namun, langkahku terhenti ketika seseorang menabrakku
hingga membuat salah satu golden card palsu ku terjatuh ke tanah.
“Ah gomenasai,
Ryuko-san,” ucap seorang wanita lembut yang tak lain adalah Vallery. Sejenak ia
melirik benda berwarna emas yang baru saja terjatuh dari kantongku. Aku segera
mengambilnya dan kembali memasukkannya ke kantong.
“Its okay,
Vallery-san,” responku singkat. Aku hendak melanjutkan perjalananku menuju ke barat ruangan
Karina-san. Namun lagi-lagi langkahku terhenti oleh seseorang yang tak lain
adalah Tn Muda Miura Yuuki. Perayaan! dia sudah keluar dari rumah sakit.
“Kenapa kau memiliki golden card itu?” tanyanya
dingin.Sepertinya dia juga melihat ketika aku menjatuhkan yang palsu tadi. Ah,
mungkin dia heran kenapa aku bisa memilikinya, padahal seharusnya golden card
itu ada di tangan Nakahara. Oke, otak iblisku mengisyaratkan bahwa ini adalah
sebuah kesempatan untuk memanfaatkan Yuuki.
“Aku tahu kau memberikannya pada Nakahara. Saat ini
dia ada di suatu tempat, sebaiknya kau ikuti rencanaku atau sesuatu yang buruk
akan terjadi padanya,” bisikku pada Yuuki.
“Kau... apa yang kau rencanakan? Bukankah kau teman
Nakahara? Kenapa kau mengancamnya?” tanya Yuuki geram. Well, jika aku tak mengancammu seperti itu, kau tak akan mau
mengikuti rencanaku, Tuan Muda Yuuki. (pemikiran
jahat Ryuko terhadap Yuuki kemungkinan muncul karena Ryuko sedang kesal dengan
siapa saja yang menyandang nama ‘tuan muda’#ga penting).
“Hmm, no
special reason. Just follow my plan. Aku ingin kau mengatakan seperti yang
kuminta tadi malam,” ujarku sambil memberinya ‘evil grin’. Yuuki hanya membalasnya dengan death glare yang tak mempan bagi demon sepertiku. Dengan santai aku
melanjutkan perjalananku menuju ruangan Karina..
Sampai di ruangan Karina-san,aku disambut oleh
segelas orange juice dan sepiring cookies. Dengan malas aku meminum orange juice karena aku tidak suka cookies#ga penting. Di ruangan itu juga
sudah ada Robert dan Alaude yang berdiri di belakang Karina. Aku memandang
patung kecil yang ada di meja dengan kosong. Hm, benda ini bisa menjadi kunci
hanya saja masalahnya...
“Maaf Ashihara-san, aku tahu kau perwakilan dari
InterSEO tapi kau juga mengenal tersangka dari semua kasus ini. Ah, kau bahkan
adalah teman baik miss Nakahara,” ucap Robert tegas. “Jadi, aku tak bisa
memberikan benda ini padamu begitu saja. Bukannya aku tidak mempercayaimu,
hanya saja...”
“Aku mengerti Mr Detective. Jika kau masih meragukanku, maka permintaan miss Karina, tak
bisa kupenuhi. Untuk apa anda meminta jaminan keamanan dari orang yang tak bisa
kau percaya,kan?” ujarku santai sambil menengguk jus orange di depanku.
“Tapi..” Karina terlihat resah oleh keputusanku.
Jujur saja,untuk apa mereka meminta jaminan keamanan dariku? Oke, secara
tertulis aku mungkin perwakilan InterSEO, tapi secara individu, aku hanya
mahasiswi biasa yang sedang kuliah di jurusan Astronomi. Game maniac, anime
maniac, ice cream maniac. Menjalin hubungan tidak jelas
dengan orang aneh yang Ashihara Sasuke. Dan sekarang aku harus mengurusi hal-hal merepotkan seperti ini.
“Robert-san, kalau Miss Ashihara tidak setuju, kita
tak bisa melaksanakan grand opening. Jadi..”
BRAK! Tiba-tiba pintu dibuka tanpa ijin.
“Boochan, jangan masuk tanpa ijin,” Vallery segera
mengejar Yuuki yang memasuki ruangan miss Karina tanpa ijin.
“Maaf pak detektif, tapi Miss Karina benar. Jika
Ryuko tidak setuju, grand opening tidak bisa dilakukan karena...” Yuuki menelan
ludah untuk memberi jeda. “ Karena aku sudah memberikan golden card pada Ryuko
karena suatu alasan. Keputusan tentang grand opening itu ada di tangan Ryuko,”
lanjut Yuuki ragu.
Aku tersenyum puas mendengar pernyataan Yuuki. Great, he followed my plan >J.
Seketika seluruh orang di ruangan itu terkejut
dengan pernyataan Yuuki. Termasuk Vallery yang langsung mendekati Yuuki dan
sepertinya sangat shock dengan keputusannya.
“Bocchan! Apa maksud
ucapanmu? Kau tak bisa memberikan golden card pemberian ayahmu pada orang asing
begitu saja. Bukankah kartu itu sangat penting?” ucap Vallery.
“Memangnya kenapa? Ayahku sudah memberikan itu
padaku, jadi terserah mau kuapakan,” respon Yuuki santai. Sedangkan Vallery
masih dengan ekspresi anehnya.
“Ehem. Jadi bagaimana?” tanyaku santai. Dan
sepertinya Robert dan yang lain menyerah,kemudian ia memberikan patung itu padaku.
“Hm, untuk rapat susulan kurasa sudah tidak
diperlukan. Grand opening akan kita lakukan besok malam saja mengingat besok
adalah bulan purnama,” ujarku santai sambil bersiap pergi dari tempat itu.
“Memangnya kenapa kalau bulan purnama?” tanya Karina
heran.
“Hmm, masalah itu,” aku melirik Vallery. “ Mungkin
anda bisa menjelaskannya, Vallery san?” lanjutku santai. Jujur saja, aku malas
melanjutkan perbincangan tak berguna ini.
“Ah itu,.” Kemudian Vallery menjelaskan alasan
pengunduran jadwal grand opening, tentang legenda pulau ini, vampire, bulan purnama dan juga keuntungan yang didapatkan.
“Hmm, aku tak tahu ada legenda semacam itu.”
komentar Karina.
Huh? Kenapa pemilik saham tidak tahu tentang sejarah
pulau miliknya dan kenapa malah Vallery yang ‘ehem’ hanya seorang pelayan
keluarga Miura bisa mengetahuinya?
“Wow, pengetahuanmu tentang pulau ini lebih baik
dari yang kukira Vallery,” komentar Yuuki kagum. Tak menyangka bahwa dulunya
ada vampire di pulau ini, Ya, meskipun Cuma cerita legenda.
“Itu, saya mendengar banyak dari Tn Miura,” respon
Vallery pelan.
“Hm, sayang sekali Tn Miura tak pernah menceritakan
hal seperti ini pada kami, rekannya. Padahal hal itu bisa digunakan untuk
meningkatkan devisa pulau ini,” komentar Karina kecewa.
“Ehem, kalau tidak keberatan, bisakah salah satu
dari kalian memberitahu Mr Arystar tentang mundurnya jadwal?” ucapku memotong
pembicaraan.
“Hei, aku memberimu golden card bukan berarti kau
bisa seenaknya memerintah di sini,” respon Yuuki kesal. Yah, bagaimana lagi,
aku memang terlahir untuk memerintah orang lain (?).
“Ah, Mr Arystar biar aku saja yang memberitahunya,”
respon Karina sambil beranjak pergi dari ruangannya. “Dan terima kasih atas
kerjasamanya, Ryuko-san,” ucap Karina sebelum meninggalkan pintu.
Aku hanya mengangguk , terlalu malas untuk menjawab
ucapan terima kasihnya.
“Nah, Mr detective, aku punya sedikit hadiah agar
kau bisa percaya padaku,” ucapku sambil tersenyum misterius.
“Ada apa?” tanya Robert menyipitkan matanya, curiga. Kemudian aku mendekati kedua detektif itu
dan membisikan sesuatu pada keduanya. Mereka berdua menghela nafas kemudian
menatapku serius.
“Baiklah tunjukan pada kami,” ucap Robert.
“Baiklah. Ah, Vallery-san bisa kau ikut kami? Aku
akan membutuhkan sedikit bantuanmu,” ujarku sambil berjalan menuju pintu
diikuti oleh Robert, Alaude, Vallery dan juga..Yuuki. “Hmm, Aku tidak
menyarankanmu untuk ikut, Yuuki-kun,” ucapku sambil meliriknya tajam.
“Kau tidak bisa melarangku,” ujar Yuuki keras
kepala.
“Terserahlah,”
NORMAL
POV
Ryuko dan rombongannya masih berjalan menuju sebuah
tempat. Tiba-tiba Ryuko melihat sosok yang membuat matanya berkedut kesal.
Akashi, the stupid dog.
“Ryuko-san? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya
Akashi, nadanya terdengar lebih tenang dari biasanya.Ia melirik satu per satu
manusia di sebelah Ryuko, tatapannya berakhir pada Yuuki yang juga sedang
menatap Akashi dengan tatapan curiga.
“Sebenarnya aku ingin mencincangmu, tapi karena ada
urusan yang lebih penting aku harus menundanya,” dengan santai Ryuko
mengabaikan Akashi dan melanjutkan perjalanannya menuju suatu tempat.
“A-aku boleh ikut, Ryuko-san?” tanya Akashi.
“Terserah,” respon Ryuko cuek.
Di tempat lain, Nakahara dan ke 5 teman anehnya
masih berkumpul di basecamp. Dan seperti biasa mereka hanya melakukan hal-hal
tak berguna dan membuat keributan.
“Hei Aerish, jadi kau berhasil membuat Karina-san
memberikan patung itu padamu?” tanya Sharie antusias, masih sambil mengunyah
kripik kentang di depannya.
“Yah entahlah,sisanya tergantung Ryuko sih,” respon
Aerish sambil tertawa.
“Hah, kau mengandalkan si Ryuko itu? Memangnya dia
itu mau repot-repot melakukan hal seperti itu?” ujar Makio yang ikutan
nimbrung.
“Sebenarnya, aku punya firasat yang tidak enak soal
Ryuko semenjak dia memintaku membuat golden card palsu itu,” Takano ikutan
curhat, eh nimbrung.
“Entahlah, kita hanya bisa percaya padanya,” respon
Aerish pasrah.
“Aku harap Ryuko segera membawa patung itu ke sini
karena aku penasaran apa ada noda darah Yuuki di sana,” respon Nakahara ga
nyambung.
BRAK!
Tiba-tiba pintu ruanganan itu terbuka membuat Aerish
cs (minus Nakahara) kaget karena
tiba-tiba melihat kedua detektif, Vallery dan beberapa orang di sana bisa menemukan tempat persembunyian
mereka.
“Ternyata benar dia ada di sini. Alaude, tangkap
dia,” perintah Robert. Dengan segera Akaude mengeluarkan borgol dan untuk
kesekian kalinya ia menangkap Nakahara.
“Ah~ mereka menemukanku,” ujar Nakahara santai
seolah ia sedang bermain petak umpet dengan para detektif ini.
"Tunggu dulu, lepaskan dia! Kenapa kalian
bisa-“ Takano hendak menarik Nakahara agar lepas dari cengkrama Alaude, namun
seseorang menghentikannya.
“Stop it
Takano, Kalau kau melawan,kau juga akan ditangkap,” ujar seseorang dingin, tak
lain dan tak bukan adalah… Ryuko.
“Hei Ryuko! Apa yang kau lakukan?” tanpa diduga Yuuki
yang hendak menarik Ryuko, namun sudah dihentikan lebih dulu oleh Akashi? Wow,
dia tidak se ‘useless’ yang Ryuko
pikirkan.
“Jangan mengganggu,” ujar Akashi dingin.
“Ryuko, apa maksudnya ini? Kenapa kau melakukan
ini?” ucap Aerish tak percaya ketika melihat Ryuko mengkhianati mereka semua.
What? ini pengkhianatan? Tapi kenapa Ryuko melakukannya?
“Sebaiknya kalian jangan melawan,” respon Ryuko
dingin sembari pergi bersama para detektif yang membawa Nakahara. Sementara
teman-temannya hanya
terpaku tak percaya.
“Vallery-san, sepertinya kau mengenal tempat ini
lebih baik dari yang kukira. Apa kau tahu satu tempat yang cocok agar dia tak
bisa lari lagi?” tanya Ryuko santai.
“Anoo gomen,
aku tahu satu tempat , tapi tempat itu hanya bisa dimasuki menggunakan golden
card,” respon Vallery pelan.
“Hmm, tak masalah, bawa aku ke tempat itu,” Respon Ryuko sambil tersenyum misterius.
Tak lama kemudian Ryuko, Nakahara, Vallery dan dua detektif itu memasuki kastil yang hanya bisa dibuka oleh
golden card. Beruntung, meski palsu Ryuko bisa menggunakan golden card itu
untuk membuka gerbang dan juga sebuah ruangan rahasia. Pas, dua kali ia
menggunakan fungsi istimewa ‘fake golden
card’.
“Dengan begini, ia tak akan bisa kabur,” ujar Robert
puas, ketika mengetahui bahwa ruangan itu hanya bisa dibuka tutup dengan golden
card. Sebelum pergi Ryuko membisikan sesuatu pada Nakahara, hingga membuat
wajahnya sedikit terkejut. What?
Nakahara terkejut.
“Hee, kau lebih kejam dari yang kukira,” respon
Nakahara sinis.
“Thanks.
Anyway, enjoy your time here,” Respon Ryuko sambil meninggalkan Nakahara.
“Fuh, tentu saja aku akan menikmati waktuku di
sini,” ucap Nakahara sambil mengeluarkan golden card dari sakunya.
@@@
Seorang gadis melewati pintu besar memasuki lobi
hotel. Salah seorang tamu yang sedang duduk bersama temannya di sudut lobi
memperhatikan gadis tersebut. Mengenakan Hotpant seakan memamerkan kakinya yang
indah, dipadukan dengan kaus tak berlengan dan topi pantai. Tas ransel kecil
menggantung sempurna di punggungnya. Tidak ada yang merasa curiga terhadap
gadis itu. Tentu saja, karena hari ini rombongan tamu spesial
pembuakaan pulau sudah mulai datang. Mungkin mereka pikir gadis berambut merah
itu adalah salah satu dari para tamu. Meskipun pembukaan pulau ditunda sampai
besok, hal itu tidak menyurutkan keinginan para tamu untuk segera menyambangi
Bloody Island.
Tok tok tok… Si rambut
merah mengetuk sebuah pintu dari salah satu kamar di hotel berharap seseorang
berada di dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka dan seorang gadis manis muncul
dari balik pintu.
“Maaf, Anda siapa?
Ada yang bisa kubantu?” kata Aerish menatap Si
rambut merah yang menyembunyikan matanya dibalik kacamata pantai. Tanpa
berbasa-basi Si rambut merah membungkam mulut
Aerish dan mendorongnya masuk kamar kemudian menutup pintu.
“Mmpp….” Aerish sepertinya berusaha untuk berteriak.
“Ssshhhh!” Si rambut
merah meletakkan telunjuk di bibirnya sebagai tanda supaya Aerish tetap tenang.
“Ini aku,” kata Si rambut
merah menyingkirkan tangannya dari mulut Aerish. Dengan wajah yang bingung, Aerish menatap Si rambut merah dengan masih berusaha
mengatur nafasnya.
“Gezz, apa kau tidak bisa mengenaliku,” keluh Si rambut merah melepas kacamata dan rambut palsu merahnya ?
“Nakahara!” Aerish terkejut mendapati teman yang dia
fikir masih berada di kurungan (kau pikir dia ayam!) kini berdiri di
hadapannya seperti setan yang bergentayangan.
“Yah, setidaknya sekarang aku yakin bahwa
penyamaranku cukup baik untuk menipu orang,” kata Nakahara santai menuju sofa dan merebahkan
tubuhnya di sana.
“Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah kau dikurung
di dalam kastil,” tanya
Aerish masih saja terkejut.
“Jangan panggil aku Nakahara jika tidak bisa kabur dari jebakan murahan seperti itu. Tapi sudahlah itu tidak penting. Dan aku butuh bantuanmu sekarang,” pinta
Nakahara, wow jarang sekali Nakahara meminta bantuan orang lain.
“Bantuan apa?” Aerish kini duduk di samping
Nakahara.
“Kau harus membantuku menggagalkan Grand Opening pulau yang diadakan besok,” kata
Nakahara serius.
“Kenapa kau begitu terobsesi untuk menggagalkan Grand Opening
itu?”
“Karena Yuuki yang memintanya,” jawab Nakahara santai
“Kenapa Yuuki menginginkannya?”
“Karena ayahnya, Tn.Miura yang menginginkannya.”Alasan yang aneh.
“Ok, tapi kau tahu kan ini tidak akan mudah. Kerena
sepertinya Ryuko sudah memihak kubu yang tidak menginginkan keberadaanmu.
Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Ryuko saat membantu Robert
untuk menangkapmu.” Nakahara hanya
terdiam mendengar komentar Aerish. Mungkin dia mengetahhui sesuatu hanya saja
tidak ingin mengatakannya, atau mungkin terlalu malas.
“Kau tidak perlu khawatir tentang Ryuko. Jika dia
menghalangi kita, hadapi saja. Ryuko tidak akan bisa menghentikan kita.”
“Lalu apa rencanamu?” tanya Aerish.
“Pertama kita harus mencari keberadaan Tn. Miura,” kata
Nakahara singkat.
Apa Nakahara sudah gila? Mencari keberadaan Tn.
Miura? Bukankah itu yang berusaha mereka lakukan sejak awal? Itu sama saja
mereka harus kembali lagi ke awal.
Stiil To Be Continue...
seperti biasa Author yang satu ini tidak mau basa-basi...
Yang penting tugas sudah terlaksana ya...
Tag :// story





