Newest Post

Archive for April 2014


A Combination Project with Nakahara Ningsih and Lee Diah
Title : Kioku Reunion ~ Bloody Island~
Author : Uchiha Ryuko, Nakahara Ningsih, Aerish Lee
Genre : Comedy / Adventure/Mystery
Summary : Ryuko, Nakahara, Aerish dan 4 temannya semasa sekolah bertemu kembali dalam liburan yang tak terduga. Mereka pikir liburan di Bloody Island akan menjadi liburan yang tenang dan mengasyikan. Tapi yang menunggu mereka adalah liburan yang penuh dengan masalah.
Cerita ini memiliki 4 sudut pandang berbeda, Ryuko POV, Nakahara POV, Aerish POV dan Normal POV.

Chapter 5




Ryuko POV
“Ryuko! Kau ada di dalam  kan?” ujar sebuah suara sambil terus menggedor pintu kamarku.
“Ada apa?” tanyaku kesal ketika mendapati Aerish yang berdiri di balik pintu itu.
“Ryuko, aku punya berita bagus,” ujar Aerish berbinar-binar. Aku hanya mengerutkan alisku, meminta Aerish memperjelas ucapannya.  Kemudian ia menceritakan bahwa Karina akan memberikan patung-yang diduga sebagai senjata untuk melukai Yuuki- itu dengan syarat aku bersedia menemuinya dan bersedia menjamin keamanan hingga grand opening.
“Aerish, apa kau tidak punya cara lain untuk mendapatkan informasi dari si Karina itu tanpa melibatkan aku?” keluhku. Secara tertulis aku memang perwakilan dari  InterSEO, tapi aku bukanlah manusia super yang bisa menjamin keamanan di Bloody Island sendirian. Lagipula siapa yang bilang aku ini bagian InterSEO? Semua itu hanya asumsi!
“Aku rasa tidak ada cara lain Ryuko. Ayolah, ini satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan bukti itu,”
“Sigh. I have no choice. Aku akan menemui miss Karina satu jam lagi,” ucapku pasrah. “Sementara itu... aku ingin kau memastikan Nakahara agar tak menimbulkan masalah,”
“Baiklah,” jawab Aerish. “Ryuko, jangan lupa segera beritahu kami begitu kau mendapatkan bukti-“
Tanpa mempedulikan Aerish yang masih di depan pintu, aku langsung menutup pintu itu tanpa dosa. Tidak sopan? Hah, siapa suruh kau membangunkan demon yang sedang tertidur. Im not a morning person, you know???!
Sebelum menuju kamar Karina, aku mampir ke kamar Takano dan Makio untuk mengambil imitasi Golden Card yang kuminta.
“Jadi bagaimana? Kau berhasil membuat berapa?” tanyaku sambil mengikuti Makio menyusuri kamarnya dan juga Takano yang terlihat seperti hutan belantara.
“Well, golden card ini lebih rumit dari yang kukira. Menurut Nakahara, kartu ini bisa digunakan untuk membuka tempat-tempat khusus di Bloody Island. Di dalamnya banyak data2 aneh yang tak kumengerti. Mungkin, kartu imitasi ini hanya bisa digunakan dua kali untuk membuka tempat yang hanya bisa dibuka oleh Golden card. Dan kami berhasil membuat tiga buah,” jelas Takano sambil memberiku tiga golden card palsu.
Well, its more than enough. Thanks,”jawabku singkat.
“Hei, apa yang kau rencanakan dengan kartu palsu itu?” tanya Makio penasaran.
“Hmm, nanti kau juga tahu. Ah, sebaiknya kau kembalikan golden card yang asli pada Nakahara. Dia akan membutuhkannya,” ujarku singkat sambil pergi meninggalkan Takano dan Makio yang masih kebingungan.
Aku segera berjalan menuju kamar Karina untuk berbicara dengannya. Namun, langkahku terhenti ketika seseorang menabrakku hingga membuat salah satu golden card palsu ku terjatuh ke tanah.
“Ah gomenasai, Ryuko-san,” ucap seorang wanita lembut yang tak lain adalah Vallery. Sejenak ia melirik benda berwarna emas yang baru saja terjatuh dari kantongku. Aku segera mengambilnya dan kembali memasukkannya ke kantong.
Its okay, Vallery-san,” responku singkat. Aku hendak melanjutkan perjalananku menuju ke barat ruangan Karina-san. Namun lagi-lagi langkahku terhenti oleh seseorang yang tak lain adalah Tn Muda Miura Yuuki. Perayaan! dia sudah keluar dari rumah sakit.
“Kenapa kau memiliki golden card itu?” tanyanya dingin.Sepertinya dia juga melihat ketika aku menjatuhkan yang palsu tadi. Ah, mungkin dia heran kenapa aku bisa memilikinya, padahal seharusnya golden card itu ada di tangan Nakahara. Oke, otak iblisku mengisyaratkan bahwa ini adalah sebuah kesempatan untuk memanfaatkan Yuuki.
“Aku tahu kau memberikannya pada Nakahara. Saat ini dia ada di suatu tempat, sebaiknya kau ikuti rencanaku atau sesuatu yang buruk akan terjadi padanya,” bisikku pada Yuuki.
“Kau... apa yang kau rencanakan? Bukankah kau teman Nakahara? Kenapa kau mengancamnya?” tanya Yuuki geram. Well, jika aku tak mengancammu seperti itu, kau tak akan mau mengikuti rencanaku, Tuan Muda Yuuki. (pemikiran jahat Ryuko terhadap Yuuki kemungkinan muncul karena Ryuko sedang kesal dengan siapa saja yang menyandang nama ‘tuan muda’#ga penting).
“Hmm, no special reason. Just follow my plan. Aku ingin kau mengatakan seperti yang kuminta tadi malam,” ujarku sambil memberinya ‘evil grin’. Yuuki hanya membalasnya dengan death glare yang tak mempan bagi demon sepertiku. Dengan santai aku melanjutkan perjalananku menuju ruangan Karina..
Sampai di ruangan Karina-san,aku disambut oleh segelas orange juice dan sepiring cookies. Dengan malas aku meminum orange juice karena aku tidak suka cookies#ga penting. Di ruangan itu juga sudah ada Robert dan Alaude yang berdiri di belakang Karina. Aku memandang patung kecil yang ada di meja dengan kosong. Hm, benda ini bisa menjadi kunci hanya saja masalahnya...
“Maaf Ashihara-san, aku tahu kau perwakilan dari InterSEO tapi kau juga mengenal tersangka dari semua kasus ini. Ah, kau bahkan adalah teman baik miss Nakahara,” ucap Robert tegas. “Jadi, aku tak bisa memberikan benda ini padamu begitu saja. Bukannya aku tidak mempercayaimu, hanya saja...”
“Aku mengerti Mr Detective. Jika kau masih meragukanku, maka permintaan miss Karina, tak bisa kupenuhi. Untuk apa anda meminta jaminan keamanan dari orang yang tak bisa kau percaya,kan?” ujarku santai sambil menengguk jus orange di depanku.
“Tapi..” Karina terlihat resah oleh keputusanku. Jujur saja,untuk apa mereka meminta jaminan keamanan dariku? Oke, secara tertulis aku mungkin perwakilan InterSEO, tapi secara individu, aku hanya mahasiswi biasa yang sedang kuliah di jurusan Astronomi. Game maniac, anime maniac, ice cream maniac. Menjalin hubungan tidak jelas dengan orang aneh yang Ashihara Sasuke. Dan sekarang aku harus mengurusi hal-hal merepotkan seperti ini.
“Robert-san, kalau Miss Ashihara tidak setuju, kita tak bisa melaksanakan grand opening. Jadi..”
BRAK! Tiba-tiba pintu dibuka tanpa ijin.
“Boochan, jangan masuk tanpa ijin,” Vallery segera mengejar Yuuki yang memasuki ruangan miss Karina tanpa ijin.
“Maaf pak detektif, tapi Miss Karina benar. Jika Ryuko tidak setuju, grand opening tidak bisa dilakukan karena...” Yuuki menelan ludah untuk memberi jeda. “ Karena aku sudah memberikan golden card pada Ryuko karena suatu alasan. Keputusan tentang grand opening itu ada di tangan Ryuko,” lanjut Yuuki ragu.
Aku tersenyum puas mendengar pernyataan Yuuki. Great, he followed my plan >J.
Seketika seluruh orang di ruangan itu terkejut dengan pernyataan Yuuki. Termasuk Vallery yang langsung mendekati Yuuki dan sepertinya sangat shock dengan keputusannya.
Bocchan! Apa maksud ucapanmu? Kau tak bisa memberikan golden card pemberian ayahmu pada orang asing begitu saja. Bukankah kartu itu sangat penting?” ucap Vallery.
“Memangnya kenapa? Ayahku sudah memberikan itu padaku, jadi terserah mau kuapakan,” respon Yuuki santai. Sedangkan Vallery masih dengan ekspresi anehnya.
“Ehem. Jadi bagaimana?” tanyaku santai. Dan sepertinya Robert dan yang lain menyerah,kemudian ia memberikan patung itu padaku.
“Hm, untuk rapat susulan kurasa sudah tidak diperlukan. Grand opening akan kita lakukan besok malam saja mengingat besok adalah bulan purnama,” ujarku santai sambil bersiap pergi dari tempat itu.
“Memangnya kenapa kalau bulan purnama?” tanya Karina heran.
“Hmm, masalah itu,” aku melirik Vallery. “ Mungkin anda bisa menjelaskannya, Vallery san?” lanjutku santai. Jujur saja, aku malas melanjutkan perbincangan tak berguna ini.
“Ah itu,.” Kemudian Vallery menjelaskan alasan pengunduran jadwal grand opening, tentang legenda pulau ini, vampire, bulan purnama dan juga keuntungan yang didapatkan.
“Hmm, aku tak tahu ada legenda semacam itu.” komentar Karina.
Huh? Kenapa pemilik saham tidak tahu tentang sejarah pulau miliknya dan kenapa malah Vallery yang ‘ehem’ hanya seorang pelayan keluarga Miura bisa mengetahuinya?
“Wow, pengetahuanmu tentang pulau ini lebih baik dari yang kukira Vallery,” komentar Yuuki kagum. Tak menyangka bahwa dulunya ada vampire di pulau ini, Ya, meskipun Cuma cerita legenda.
“Itu, saya mendengar banyak dari Tn Miura,” respon Vallery pelan.
“Hm, sayang sekali Tn Miura tak pernah menceritakan hal seperti ini pada kami, rekannya. Padahal hal itu bisa digunakan untuk meningkatkan devisa pulau ini,” komentar Karina kecewa.
“Ehem, kalau tidak keberatan, bisakah salah satu dari kalian memberitahu Mr Arystar tentang mundurnya jadwal?” ucapku memotong pembicaraan.
“Hei, aku memberimu golden card bukan berarti kau bisa seenaknya memerintah di sini,” respon Yuuki kesal. Yah, bagaimana lagi, aku memang terlahir untuk memerintah orang lain (?).
“Ah, Mr Arystar biar aku saja yang memberitahunya,” respon Karina sambil beranjak pergi dari ruangannya. “Dan terima kasih atas kerjasamanya, Ryuko-san,” ucap Karina sebelum meninggalkan pintu.
Aku hanya mengangguk , terlalu malas untuk menjawab ucapan terima kasihnya.
“Nah, Mr detective, aku punya sedikit hadiah agar kau bisa percaya padaku,” ucapku sambil tersenyum misterius.
“Ada apa?” tanya Robert menyipitkan matanya, curiga. Kemudian aku mendekati kedua detektif itu dan membisikan sesuatu pada keduanya. Mereka berdua menghela nafas kemudian menatapku serius.
“Baiklah tunjukan pada kami,” ucap Robert.
“Baiklah. Ah, Vallery-san bisa kau ikut kami? Aku akan membutuhkan sedikit bantuanmu,” ujarku sambil berjalan menuju pintu diikuti oleh Robert, Alaude, Vallery dan juga..Yuuki. “Hmm, Aku tidak menyarankanmu untuk ikut, Yuuki-kun,” ucapku sambil meliriknya tajam.
“Kau tidak bisa melarangku,” ujar Yuuki keras kepala.
“Terserahlah,”

NORMAL POV
Ryuko dan rombongannya masih berjalan menuju sebuah tempat. Tiba-tiba Ryuko melihat sosok yang membuat matanya berkedut kesal. Akashi, the stupid dog.
“Ryuko-san? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Akashi, nadanya terdengar lebih tenang dari biasanya.Ia melirik satu per satu manusia di sebelah Ryuko, tatapannya berakhir pada Yuuki yang juga sedang menatap Akashi dengan tatapan curiga.
“Sebenarnya aku ingin mencincangmu, tapi karena ada urusan yang lebih penting aku harus menundanya,” dengan santai Ryuko mengabaikan Akashi dan melanjutkan perjalanannya menuju suatu tempat.
“A-aku boleh ikut, Ryuko-san?” tanya Akashi.
“Terserah,” respon Ryuko cuek.
Di tempat lain, Nakahara dan ke 5 teman anehnya masih berkumpul di basecamp. Dan seperti biasa mereka hanya melakukan hal-hal tak berguna dan membuat keributan.
“Hei Aerish, jadi kau berhasil membuat Karina-san memberikan patung itu padamu?” tanya Sharie antusias, masih sambil mengunyah kripik kentang di depannya.
“Yah entahlah,sisanya tergantung Ryuko sih,” respon Aerish sambil tertawa.
“Hah, kau mengandalkan si Ryuko itu? Memangnya dia itu mau repot-repot melakukan hal seperti itu?” ujar Makio yang ikutan nimbrung.
“Sebenarnya, aku punya firasat yang tidak enak soal Ryuko semenjak dia memintaku membuat golden card palsu itu,” Takano ikutan curhat, eh nimbrung.
“Entahlah, kita hanya bisa percaya padanya,” respon Aerish pasrah.
“Aku harap Ryuko segera membawa patung itu ke sini karena aku penasaran apa ada noda darah Yuuki di sana,” respon Nakahara ga nyambung.
BRAK!
Tiba-tiba pintu ruanganan itu terbuka membuat Aerish cs (minus Nakahara) kaget karena tiba-tiba melihat kedua detektif, Vallery dan beberapa orang di sana bisa menemukan tempat persembunyian mereka.
“Ternyata benar dia ada di sini. Alaude, tangkap dia,” perintah Robert. Dengan segera Akaude mengeluarkan borgol dan untuk kesekian kalinya ia menangkap Nakahara.
“Ah~ mereka menemukanku,” ujar Nakahara santai seolah ia sedang bermain petak umpet dengan para detektif ini.
"Tunggu dulu, lepaskan dia! Kenapa kalian bisa-“ Takano hendak menarik Nakahara agar lepas dari cengkrama Alaude, namun seseorang menghentikannya.
Stop it Takano, Kalau kau melawan,kau juga akan ditangkap,” ujar seseorang dingin, tak lain dan tak bukan adalah… Ryuko.
“Hei Ryuko! Apa yang kau lakukan?” tanpa diduga Yuuki yang hendak menarik Ryuko, namun sudah dihentikan lebih dulu oleh Akashi? Wow, dia tidak se ‘useless’ yang Ryuko pikirkan.
“Jangan mengganggu,” ujar Akashi dingin.
“Ryuko, apa maksudnya ini? Kenapa kau melakukan ini?” ucap Aerish tak percaya ketika melihat Ryuko mengkhianati mereka semua. What? ini pengkhianatan? Tapi kenapa Ryuko melakukannya?
“Sebaiknya kalian jangan melawan,” respon Ryuko dingin sembari pergi bersama para detektif yang membawa Nakahara. Sementara teman-temannya hanya terpaku tak percaya.
“Vallery-san, sepertinya kau mengenal tempat ini lebih baik dari yang kukira. Apa kau tahu satu tempat yang cocok agar dia tak bisa lari lagi?” tanya Ryuko santai.
“Anoo gomen, aku tahu satu tempat , tapi tempat itu hanya bisa dimasuki menggunakan golden card,” respon Vallery pelan.
“Hmm, tak masalah, bawa aku ke tempat itu,” Respon Ryuko sambil tersenyum misterius.
Tak lama kemudian Ryuko, Nakahara, Vallery dan dua detektif itu memasuki kastil yang hanya bisa dibuka oleh golden card. Beruntung, meski palsu Ryuko bisa menggunakan golden card itu untuk membuka gerbang dan juga sebuah ruangan rahasia. Pas, dua kali ia menggunakan fungsi istimewa ‘fake golden card’.
“Dengan begini, ia tak akan bisa kabur,” ujar Robert puas, ketika mengetahui bahwa ruangan itu hanya bisa dibuka tutup dengan golden card. Sebelum pergi Ryuko membisikan sesuatu pada Nakahara, hingga membuat wajahnya sedikit terkejut. What? Nakahara terkejut.
“Hee, kau lebih kejam dari yang kukira,” respon Nakahara sinis.
Thanks. Anyway, enjoy your time here,” Respon Ryuko sambil meninggalkan Nakahara.
“Fuh, tentu saja aku akan menikmati waktuku di sini,” ucap Nakahara sambil mengeluarkan golden card dari sakunya.
 
@@@

Seorang gadis melewati pintu besar memasuki lobi hotel. Salah seorang tamu yang sedang duduk bersama temannya di sudut lobi memperhatikan gadis tersebut. Mengenakan Hotpant seakan memamerkan kakinya yang indah, dipadukan dengan kaus tak berlengan dan topi pantai. Tas ransel kecil menggantung sempurna di punggungnya. Tidak ada yang merasa curiga terhadap gadis itu. Tentu saja, karena hari ini rombongan tamu spesial pembuakaan pulau sudah mulai datang. Mungkin mereka pikir gadis berambut merah itu adalah salah satu dari para tamu. Meskipun pembukaan pulau ditunda sampai besok, hal itu tidak menyurutkan keinginan para tamu untuk segera menyambangi Bloody Island.
Tok tok tok… Si rambut merah mengetuk sebuah pintu dari salah satu kamar di hotel berharap seseorang berada di dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka dan seorang gadis manis muncul dari balik pintu.
“Maaf, Anda siapa? Ada yang bisa kubantu?” kata Aerish menatap Si rambut merah yang menyembunyikan matanya dibalik kacamata pantai. Tanpa berbasa-basi Si rambut merah membungkam mulut Aerish dan mendorongnya masuk kamar kemudian menutup pintu.
“Mmpp….” Aerish sepertinya berusaha untuk berteriak.
“Ssshhhh!” Si rambut merah meletakkan telunjuk di bibirnya sebagai tanda supaya Aerish tetap tenang.
“Ini aku,kata Si rambut merah menyingkirkan tangannya dari mulut Aerish. Dengan wajah yang bingung, Aerish menatap Si rambut merah dengan masih berusaha mengatur nafasnya.
“Gezz, apa kau tidak bisa mengenaliku,keluh Si rambut merah melepas kacamata dan rambut palsu merahnya ?
“Nakahara!” Aerish terkejut mendapati teman yang dia fikir masih berada di kurungan (kau pikir dia ayam!) kini berdiri di hadapannya seperti setan yang bergentayangan.
“Yah, setidaknya sekarang aku yakin bahwa penyamaranku cukup baik untuk menipu orang,kata Nakahara santai menuju sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.
“Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah kau dikurung di dalam kastil,tanya Aerish masih saja terkejut.
“Jangan panggil aku Nakahara jika tidak bisa kabur dari jebakan murahan seperti itu. Tapi sudahlah itu tidak penting. Dan aku butuh bantuanmu sekarang,pinta Nakahara, wow jarang sekali Nakahara meminta bantuan orang lain.
“Bantuan apa?” Aerish kini duduk di samping Nakahara.
“Kau harus membantuku menggagalkan Grand Opening pulau yang diadakan besok,kata Nakahara serius.
“Kenapa kau begitu terobsesi untuk menggagalkan Grand Opening itu?”
“Karena Yuuki yang memintanya,jawab Nakahara santai
“Kenapa Yuuki menginginkannya?”
“Karena ayahnya, Tn.Miura yang menginginkannya.”Alasan yang aneh.
“Ok, tapi kau tahu kan ini tidak akan mudah. Kerena sepertinya Ryuko sudah memihak kubu yang tidak menginginkan keberadaanmu. Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Ryuko saat membantu Robert untuk menangkapmu.”  Nakahara hanya terdiam mendengar komentar Aerish. Mungkin dia mengetahhui sesuatu hanya saja tidak ingin mengatakannya, atau mungkin terlalu malas.
“Kau tidak perlu khawatir tentang Ryuko. Jika dia menghalangi kita, hadapi saja. Ryuko tidak akan bisa menghentikan kita.”
“Lalu apa rencanamu?” tanya Aerish.
“Pertama kita harus mencari keberadaan Tn. Miura,kata Nakahara singkat.
Apa Nakahara sudah gila? Mencari keberadaan Tn. Miura? Bukankah itu yang berusaha mereka lakukan sejak awal? Itu sama saja mereka harus kembali lagi ke awal.
Stiil To Be Continue... 

seperti biasa Author yang satu ini tidak mau basa-basi...
Yang penting tugas sudah terlaksana ya...

Kioku Reunion - Bloody Island Chapter 5

Wednesday, April 30, 2014
Posted by atsuko's world
Tag :

Satu lagi karya tidak jelas dariku. tapi ini SEDIKIT terinspirasi dari kisah nyata lho. Ingat ya cuma SEDIKIT....


Kalau jodoh pasti bertemu. Kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasiku saat ini. Hari ini akan jadi hari yang bersejarah bagiku. Setelah belasan tahun berpisah akhirnya aku bisa bertemu dengan saudara kembarku.

Unrequited Love

Posted by atsuko's world
Tag :
 
A Combination Project with Nakahara Ningsih and Lee Diah
Title : Kioku Reunion ~ Bloody Island~
Author : Uchiha Ryuko, Nakahara Ningsih, Aerish Lee
Genre : Comedy / Adventure/Mystery
Summary : Ryuko, Nakahara, Aerish dan 4 temannya semasa sekolah bertemu kembali dalam liburan yang tak terduga. Mereka pikir liburan di Bloody Island akan menjadi liburan yang tenang dan mengasyikan. Tapi yang menunggu mereka adalah liburan yang penuh dengan masalah.
Cerita ini memiliki 4 sudut pandang berbeda, Ryuko POV, Nakahara POV, Aerish POV dan Normal POV.

 

Chapter 2

 NAKAHARA POV
“Jadi apa yang akan kita lakukan hari ini?” aku bertanya pada Yuuki yang masih memperhatikan Ryuko yang berjalan menjauh dengan seorang laki-laki.
“Apa kau mengenal gadis itu?” tanya Yuuki penuh curiga.
“Maksudmu Nogami Ryuko? Dia korban maksudku teman lamaku.” Kataku menjelaskan.
“Nogami? Bukannya Ashihara Ryuko? Aku punya semua daftar tamu VIP di hotel ini dan tidak ada nama Nogami Ryuko.”

Kioku Reunion Bloody Island Chapter 2

Saturday, April 19, 2014
Posted by atsuko's world
Tag :

// Copyright © My World //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed by Johanes Djogan //