Newest Post



Nakahara tidak yakin dengan apa yang dia lakukan.. tadinya dia hanya berfikir apa harapan terakhir Seiko, dan mereka berakhir seperti ini. Duduk di meja makan milik Sharie. Ada lima manusia dan satu hantu di ruangan tersebut. Setidaknya itulah yang Nakahara tahu.

Mereka duduk melingkar di meja makan yang bundar. Seiko, pemeran utama dalam makan malam ini duduk diantara kedua anak kesayangannya, Aerish dan Popuri.  Nakahara duduk diantara Sharie dan Ryuko. Ya, meski harus menyeretnya Sharie akhirnya mau bergabung dengan makan malam ini. Sedang Ryuko, dia hanya mengekor pada Sharie. Meski ini makan malam keluarga, namun suasana terasa dingin dan sunyi.

"Aku tidak percaya ini. Kau benar-benar menampakkan dirimu setelah dua tahun menghilang. Dimana saja kau ha?" tanya Popuri. Nakahara dan Popuri memang tidak pernah akur, dan sepertinya, Popuri percaya mengenai gossip itu. Gossip yang mengatakan bahwa Nakahara adalah pelaku pembunuhan Seiko.

"Apa tujuan makan malam ini Nakahara?" tanya Aerish tenang. Aerish yang memang merupakan anak tertua dari tiga bersaudara itu memang terlihat yang paling dewasa.

"Aku hanya berfikir bahwa ibu menginginkannya ." jawab Nakahara singkat.

"Aku tidak keberatan melakukan hal ini. toh ini yang terakhir kalinya." kata Aerish lagi.

"Tunggu, apa maksudnya yang terakhir kali?"

"Kita sudah tidak memiliki tempat untuk pulang, karena itu, aku akan menetap di tempatku bekerja."

"Aku juga akan segera lulus dan melanjutkan kuliahku di luar negeri." tambah Popuri.

Nakahara tidak percaya dengan apa yang dia dengar ini. Saudara-saudaranya hanya memikirkan diri mereka sendiri. Mereka bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaan Nakahara. Nakahara hanya mampu menggigit bibirnya. Dia tidak bisa berkata apapun. Karena akan percuma, dia memang selalu kalah dari kedua saudaranya, bahkan sebelum dia membuka mulut, dia selalu kalah.

Nakahara memperhatikan Seiko. Di ruangan ini hanya dirinya dan Ryuko yang mampu melihatnya. Seiko terlihat tenang, tidak terpengaruh dengan ucapan saudaranya. Itu artinya dia tidak keberatan dengan rencana mereka. Jika sudah seperti ini, Nakahara sudah benar-benar kalah.



Sharie melihat Nakahara denga ekspresi khawatirnya. Gadis yang kini dipandanginya sedari tadi hanya bermain dengan makanannya. Pikiran Nakahara seperti sedang berada di tempat lain. Mungkin perkataan kakaknya yang membuatnya demikian. Tapi Shaire bisa apa? dia hanya mampu melihat. Dia tidak ingin ikut campur masalah keluarga orang lain, dan Sharie tahu, Nakahara tidak akan senang jika dia sampai ikut campur. Yang bisa Sharie lakukan kini hanya memberinya kekuatan untuk lebih tegar.

"Oh..." suara Makio terdengar di dalam ruangan. Semua manusia yang berada di dalam ruangan menoleh ke sumber suara. Mereka mendapati Makio sedang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan yang tersembunyi di saku jaketnya.

"Maaf, aku tidak tahu kau sedang ada tamu, Shar." kata Makio dengan ekspresi bersalah.

"Maki-chan. Kenapa kau ada di sini?" Sharie berdiri dari bangkunya dan menghampiri Makio yang masih berdiri di tempatnya.

"Kau tidak mengangkat telepon maupun membalas pesan dariku. Aku jadi khawatir, makanya aku kemari. Aku sudah membunyikan bell berkali-kali kau tidak membuka pintu dan saat ku cek pintu tidak terkunci. Kau membuatku khawatir, kupikir terjadi sesuatu yang buruk padamu." jelas Makio.

"Maaf, aku tidak sempat mengabarimu." kata Sharie menyesal.

"Ya sudah. kalau begitu aku pulang saja." Makio melihat orang-orang yang berada di dalam ruangan.
"Maaf sudah mengganggu acara kalian." lanjutnya sembari membungkuk lalu kemudian pergi. Sharie mengantaR Makio hingga pintu depan sebelum akhirnya mengucapkan perpisahan.

Sharie duduk di tempat yang sama setelah dia mengatar Makio. dilihatnya Nakahara masih diam dengan ekspresi yang sama, dan Ryuko. Ryuko yang semula hanya diam kini terlihat begitu gugup dan cemas. Apa terjadi sesuatu saat dia pergi? pikir Sharie.

Setelah makan malam yang teramat sangat tidak nyaman, Para tamu, aka Aerish dan Popuri berpamitan dengan pemilik rumah aka Sharie. Meja makan kini sepi, hanya ada mereka berempat.

"Terima kasih untuk makan malamnya Nakahara." kata Seiko tersenyum.

"Tapi sepertinya tidak sesuai dengan harapan kan?" kata Nakahara. Sharie dan Ryuko berdiri dari tempat duduk mereka dan pergi dari ruangan, berharap dapat memberi mereka privasi. yah walau hanya Ryuko nantinya yang mengerti percakapan keduanya, tapi mereka tetap melakukannya.

"Aku tahu. tapi rasanya tidak akan perbedaan dulu maupun sekarang. karena memang seperti inlah keluarga kita." kata Seiko lagi. Kali ini Nakahara hanya terdiam.

"Aku minta maaf, karena sudah menyalahkanmu atas semuanya. Padahal aku tahu kau juga sangat menderita." lanjut Seiko. Nakahara kini mengerutkan keningnya, ke arah mana percakapan ini berlanjut?

"Aku bisa melihatnya, dirimu yang sebenarnya, dan dari situ aku melihat hal yang mengerikan. Kau pasti sangat menderita." kini Seiko mulai menangis, mendekati Nakahara dan memeluknya.

"aku tidak membencimu. aku hanya terlalu rindu pada mereka. maafkan aku ya." 

"Aku tidak mengerti." kata Nakahara.

"Tidak apa, kau akan segera mengingatnya. mengingat penculikmu dan hari-hari yang kau lewati bersamanya." kali ini merupakan kalimat terakhir Seiko sebelum dia lenyap bagaikan dandelion yang tertiup angin.

Seiko sudah tidur dalam damai. meninggalkan Nakahara sendiri di tengah ruangan yang sepi. terlihat tangannya gemetar dan ekspresi horror tergambar di wajahnya. Dia mengingat sesuatu. berkat perkataan Seiko, dia mendapatkan kembali ingatannya.

Nakahara berlari menuju kamar dimana Sharie dan Ryuko berada. Membuka pintu dan berlari ke arah Ryuko sebelum mencengkram kedua lengannya kuat.

"Kau tahu, kau tahu kan?" tanya Nakahara hampir menangis. Ryuko hanya menggigit bibirnya sebelum mengangguk.

"Maafkan aku."gumam Ryuko, membuat Nakahara terduduk dan menangis.

To be continue...

Ghost ! part 5

Sunday, October 4, 2015
Posted by atsuko's world
Tag :





Nakahara membuka matanya. Tubuhnya terasa begitu lelah, kepalanya masih terasa nyeri.

"K-kau sudah b-b-bangun?" tanya Ryuko terbata-bata dari pojok ruangan. Sepertinya dia sangat menjaga jarak dengan Nakahara.

"Kau siapa dan dimana ini?" tanya Nakahara, menyadari bahwa sekali lagi dia berada di tempat yang asing. Mungkin tidak lama lagi, ini akan menjadi hobi baru untuknya. Hobi 'terbangun di tempat asing'.

"A-aku Ryuko, dan kita ada di apartement Sharie." jawab Ryuko.

"Dia temanku." Tiba-tiba Sharie muncul dari balik pintu. Membawa semangkuk sup dan segelas air di atas nampan. "Apa kau lapar? aku membuatkan ini untukmu." Sharie meletakkan nampan itu di atas meja.

"Dia tidak membutuhkannya." gumam Ryuko yang masih dapat di dengar oleh kedua penghuni kamar lainnya.

"Dia benar, aku tidak lapar." tambah Nakahara. "Dan lagi, kau sama sekali tidak berubah Sharie. Selalu mudah percaya pada orang lain. Ini akan berbahaya untuk dirimu sendiri." lanjut Nakahara.

"Jangan begitu, Ryu-chan ini baik. Aku bertemu dengannya pagi ini saat dia menyuruhku untuk berhati-hati."

"Kau bahkan belum 24 jam mengenalnya, tapi sudah menganggapnya baik. Ini sama seperti Makio dulu."

"Naka-chan! kau mengkin baru mengenal Makio selama 6 bulan dan Ryuko selama 5 menit. Tapi sekarang aku sudah mengenal Makio selama 2 setengah tahun dan Ryuko hampir 12 jam, jadi aku yang lebih tahu." kata Sharie cemberut.

"Terserah kau saja." Nakahara mengalah, lalu semuanya diam.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Nakahara kembali membuka mulutnya.
 
"Sharie..."

"hm?"

"Apa maksudmu dengan ibuku yang meninggal dalam kebakaran dua tahun lalu?" tanya Nakahara.

"Ah... itu..." Sharie berfikir sejenak, dia tidak yakin bagaimana harus menjelaskan pada sahabatnya ini."

"Dua tahun lalu dihari akan diadakan makan malam itu, rumahmu terbakar dan Seiko-san tewas dalam kebakaran itu.  tapi..." Sharie mengambil nafas panjang. "Dari hasil otopsi, ditemukan tiga luka tusuk di tubuh Seiko-san. Polisi mengira kebakaran itu adalah ulah dari orang yang menusuknya. Dan di hari itu juga kau menghilang tanpa jejak. Beberapa dari mereka mengira,... kau lah pelakunya." kata Sharie menatap Nakahara." Tapi aku tidak percaya akan hal itu! aku percaya kau tidak mungkin melukai Seiko-san seperti itu!"
 
Nakahara tidak mampu berkata-kata. dia masih belum percaya bahwa ibunya telah mati. Lalu kejadian pagi ini apa? Saat dia melihat sosok Seiko, saat mereka berbincang berdua. Nakahara mengingat mimpi itu, mimpi yang terasa sangat nyata. Dia bahkan tidak tahu lagi, apa itu benar-benar mimpi atau kenyataan

"Entahlah Sharie, aku tidak tahu apa-apa lagi."

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi selama dua tahun ini, bahkan kejadian makan malam itu. tapi mungkin mereka benar. Mungkin akulah pelakunya, karena... ibu mengatakan bahwa dia tidak bisa memaafkanku."

"Kapan dia mengatakan hal itu?" tanya Sharie bingung.

"Tepat sebelum kalian menemukanku."

"Naka-chan! itu tidak mungkin. Kau pasti sedang bermimpi. Seiko-san itu sudah mati."

"Se-sebenarnya itu  M-Mungkin saja terjadi." Tiba-tiba Ryuko mengeluarkan suara. Sharie dan Nakahara bahkan hampir lupa bahwa gadis itu masih di kamar bersama mereka.

"Se-sebenarnya aku bisa m-melihat hal semacam itu." lanjut Ryuko.

"Hal semacam itu?" Sharie sepertinya membutuhkan penjelasan lebih rinci.

"Sesuatu yang kalian sebut hantu, roh, fairy. sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia normal."

"ooo... aku tidak suka ini. Kku tidak suka cerita hantu, jadi bisa tolong kita hentikan pembicaraan ini?" pinta Sharie.

"Jadi maksudmu, ibu yang kutemui pagi dan siang ini adalah hantu?"

"Naka-chan!" protes Sharie, namun Nakahara mengabaikannya.

"Y-ya. terkadang, manusia mengalami tekanan emosi menjelang k-kematiannya. keputusasaan, k-kemarahan, kebencian. emosi yang terlalu kuat itu akan menyebabkan roh mereka terjebak d-di dunia manusia. Mereka memiliki keinginan dan harapan terakhir yang belum terlaksana, oleh sebab itu m-mereka tidak bisa pergi ke dunia roh."

"Jadi menurutmu, ibuku memiliki urusan yang belum terselesaikan? oleh karena itu dia masih menampakkan dirinya padaku?"

"Bisa jadi seperti itu." jawab Ryuko.

"Dengar, aku bukan penggemar cerita horror maupun misteri, dan jujur itu karena aku takut. Tapi jika memang yang dikatakan Ryu-chan benar. adakah sesuatu yang bisa kita lakukan untuk membuat roh Seiko-san beristirahat dalam damai?"

"A-aku tidak ingin terlibat dalam hal ini. Hidupku sudah cukup kacau karena kemampuan ini. dan A-aku harap kau juga tidak terlibat dalam masalah ini Sharie."

"Tidak masalah jika kau tidak mau membantu, tapi setidaknya beritahu aku, kira-kira apa keinginan terakhir ibuku." kata Nakahara memohon.

"K-kau bisa mengetahuinya melalui kata-kata yang di sampaikannya padamu." Nakahara berfikir sejenak. Mengingat segala ucapan Seiko hari ini.

To be continue...

Ghost ! part 4

Posted by atsuko's world
Tag :








Tut.....tut.....tut.....tut.....tut.....tut

Makio melempar smart phonenya ke atas ranjang, kesal karena Sharie tak kunjung menganggkat panggilannya. Terakhir kali mereka bicara melalu telepon Sharie memutuskan sambungan tiba-tiba setelah berkata 'She is back'.

"What the meaning of this?" gumam Makio.

Lelah memikirkan hal yang tidak dimengerti olehnya, Makio hanya mampu berguling-guling di ranjang sebelum akhirnya bangkit dan memakai jaket miliknya.

"Saatnya menghirup udara segar." seru Makio keluar dari apartement miliknya dan turun ke bawah.
Cuaca hari ini sangat cerah, orang-orang terlihat bersemangat menjalani segala aktivitas mereka. Makio juga demikian, dia terus melangkahkan kakinya sembari bersiul dengan kedua tangan di saku jaketnya.

step by step, step by step

Tidak berfikir harus kemana, Makio hanya mengikuti kemana kakinya akan membawanya.

"Seharusnya aku tidak ke sini." gumam Makio melihat ke depan. Kakinya membawanya kemari, ke rumah Nakahara atau lebih tepatnya tempat yang dulunya menjadi rumah Nakahara, setidaknya sebelum kejadian itu.

"Membuatku teringat tahun-tahun yang pernah kami lewati bersama. Saat itu begitu menyenangkan, ah... aku benar-benar merindukannya." seru Makio sebelum akhirnya terduduk dan menangis.
Makio bertahan dalam posisi seperti itu selama beberapa menit, menghiraukan orang-orang yang lalu lalang di depannya, mengacuhkan tatapan aneh mereka. Setelah dirasa puas, Makio bangkin dan pergi.

***

Nakahara mengetuk-ketukkan jarinya ke meja. keningnya berkerut karena berfikir keras.

"Aku rasa aku mengingat sesuatu." kata Nakahara. dirinya dan Seiko masih di tempat yang sama, dapur. Masih membicarakan hal yang sama, ingatan Nakahara.

"Dan apa itu?" tanya Seiko penasaran.

"Makan malam. bukankah kita akan mengadakan makan malam dengan Aerish-nee dan Popuri?" kata Nakahara. Seiko terdiam sejenak, wajahnya menampakkan kesedihan yang teramat sangat.

"Ya, kau benar, tapi makan malam itu tidak pernah terlaksana." suara Seiko terdengar begitu lesu.

"eh? kenapa? Bukankah makan malam itu sangat penting bagi kita. Setelah sekian lama sibuk dengan pekerjaannya Aerish-nee akhirnya bisa meluangkan waktunya untuk kita, dan Popuri, akhirnya pulang setelah bertahun-tahun sekolah di luar negeri."

"Yah, aku tahu, ibu juga menyayangkan hal itu." kata Seiko.

"Apa mereka tidak jadi datang?"

"Mereka datang, walau memang sedikit terlambat." Seiko terdiam lagi untuk beberapa saat. Tiba-tiba ruangan terasa begitu panas dan sesak. Nakahara yang menyadarinya segera bangkit dari kursi dan melihat sekeliling. berbeda dengan anaknya, Seiko hanya terduduk tenang.

"kenapa disini panas sekali."

"Ah.. ibu benar-benar ingin memaafkanmu tapi sangat sulit." kata-kata Seiko menarik perhatian Nakahara. "Aku tidak habis pikir, kenapa harus Aerish dan Popuri yang pergi dan bukannya kau? Dan betapa sulitnya menemui mereka!" lanjut Seiko meninggikan nada suaranya.

"ibu? apa yang kau bicarakan?"

"Saat semuanya sudah sempurna! You and that brat!" suhu dalam ruangan semakin panas tapi Nakahara tidak memperdulikannya. Dia lebih ketakutan melihat kondisi Seiko. Perlahan darah keluar dari perut, pinggang, dada dan mulut Seiko. Seakan terbuat dari lilin, kulit Seiko meleleh karena suhu ruangan yang tinggi. mereka seperti dikepung dengan api. tercium bau daging matang.

"this is... this is a dream, this is a dream, this is a dream." Nakahara mengulang kata yang sama seperti sedang membaca mantra.

"Ini bukan mimpi sayang." Kini seluruh tubuh Seiko sudah gosong sehitam arang yang baru terbakar. Nakahara yang ketakutan akhirnya berlari meninggalkan dapur dan keluar rumah, namun dia tersandung dan terjatuh tepat di depan pintu agar rumahnya.

"Ugh..." kepala Nakahara kembali terasa nyerri.

"Naka-chan?" Nakahara menganggkat kepalanya dan melihat si pemilik suara. Sharie dan satu lagi orang asing di belakangnya, dia terlihat gelisah.

"Sharie?"
 
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"

"aku... aku..." Nakahara tidak mampu berkata-kata, dia berbalik untuk melihat rumahnya yang ternyata hanyalah reruntuhan dari bangunan yang habis terbakar. yah, reruntuhan itu dulunya adalah rumah Nakahara.

"Ibu... tadi ibu..." Nakahara semakin tidak mengerti.

"Maafkan aku, aku tidak sempat memberitahumu mengenai Seiko-san. dia... dia sudah meninggal dalam kebakaran dua tahun lalu." kata Sharie sembari membantu Nakahara berdiri.

"Itu tidak mungkin." kata Nakahara sebelum dunianya menjadi gelap dan dia kembali terjatuh ke tanah.

To be continue...

Ghost ! part 3

Posted by atsuko's world
Tag :


"Sharie! Sharie!" Nakahara mengeraskan suaranya, berusaha membangunkan sahabatnya yang seperti terjebak dalam mantra. Sedari tadi dia hanya diam. Sebelumnya, Sharie menatap Nakahara seperti layaknya melihat hantu, tapi kini yang dilakukannya hanya membeku di tempat.
"Sharie!" kali ini teriakan Nakahara berhasil menyadarkan Sharie.
"Na-Naka-chan, apa itu benar-benar kau?" tanya Sharie dengan suara yang bergetar.
"Tentu saja ini aku, memang siapa lagi?" Nakahara tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Diperhatikannya Sharie lekat-lekat, dia terlihat lebih mature dari kali terakhir mereka bertemu. Tunggu, kapan kali terakhir mereka bertemu? mungkin sekitar tiga hari yang lalu. Ah... Nakahara merasa sangat kesulitan dalam mengingat sesuatu semenjak keluar dari tempat itu.
"Aku... aku tidak percaya dengan apa yang kulihat." kali ini mata Sharie mulai berkaca-kaca dan gadis itu memeluk Nakahara sekuat yang dia bisa, seakan takut kehilangannya.
"Ada apa? Kenapa kau aneh begini? Apa kau sedang sakit? hm? Apa ada yang mengganggumu? Katakan padaku, akan aku urus mereka semua!" celoteh Nakahara sembari mengelus punggung sahabatnya yang kini sedang menangis.
"Tidak, aku tidak apa-apa aku hanya senang melihatmu." Sharie menggelengkan kepala sembari mengusap matanya yang basah. Kini dia sudah melepaskan pelukan mautnya.
"Tentu saja, siapa yang tidak senang melihatku?" kata Nakahara menggoda.
"Yah, ini sudah dua tahun lamanya." Sharie tersadar, betapa dia merindukan sikap Nakahara yang seperti ini sampai-sampai tidak memperhatikan ekspresi nakahara mendengar kata-katanya
"Tunggu, apa maksudmu dua tahun? bukankah kita baru bertemu beberapa hari yang lalu? apa kau sedang mabuk?" kata Nakahara keheranan.
"beberapa hari? ini sudah dua tahun sejak kau menghilang Naka-chan!" kata Sharie mulai terrlihat khawatir dengan sahabatnya itu. "Apa kau baik-baik saja? apa terjadi sesuatu? kau terlihat kebingungan, dan dimana saja kau selama ini?" Nakahara berusaha mencerna setiap pertanyaan Sharie. Tapi semakin dia mencoba, kepalanya semakin terasa sakit.
"Ugh!" Nakahara memegang kepalanya dengan kedua tangan karena sakit yang teramat sangat.
"Naka-chan!"
"Tidak, aku tidak apa-apa Sharie. Mungkin sebaiknya aku pulang." dengan terhuyung-huyung, Nakahara mulai mengambil langkah.
"Naka-chan!" Nakahara terlalu bingung untuk mendengar panggilan Sharie. " Aku belum memberitahumu mengenai Reiko-san!" namun kini Nakahara sudah hilang di tengah kerumunan.
"Sigh, apa dia akan baik-baik saja." gumam Sharie sebelum #BUKK dia menabrak seseorang.
"Oh, maafkan aku." Sharie cepat-cepat meminta maaf walau tidak tahu pasti siapa sebenarnya yang salah.
"Kau sebaiknya tidak berurusan dengan gadis itu." kata seseorang yang ditrabak Sharie. Sharie mengamati si pemilik suara itu, seorang gadis dengan hoodie yang menutupi sebagian wajahnya. dia terlihat sangat suram.
"Maaf kau siapa? dan apa maksud kata-katamu barusan?

***

Kepalanya masih berdenyut, tapi Nakahara memaksa tubuhnya untuk terus melangkah. Semakin dipikir, semakin bingung Nakahara dibuatnya. Kata-kata Sharie. Apa maksudnya dua tahun? Apa dia memang pergi selama itu? Tapi Nakahara juga tidak bisa memastikannya karena dia sendiri tidak mengingat kejadian sebelum dia terbangun di tempat asing itu.
Kalau diamati, mungkin ada benarnya juga. Nakahara baru sadar bahwa terdapat banyak bangunan baru yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Nakahara berfikir mungkin memang benar dua tahun. tapi kenapa Nakahara tidak mengingat apapun? dan Seiko, ibu Nakahara tidak mengatakan apapun soal ini. Padahal, biasanya Seiko selalu marah jika Nakahara pulang terlambat tanpa memberi kabar.
"Mungkin akan kutanyakan nanti." guamam Nakahara.
berjalan sembari berfikir membuat Nakahara tidak menyadari bahwa dia sudah sampai di depan rumahnya. Bangunan yang kini berdiri di hadapannya terlihat sama, sepi dan sunyi.
"Ibu, aku pulang!" teriak Nakahara membuka pintu depan, Namun tidak ada jawaban. "Ibu? apa ibu dirumah?" Nakahara berjalan menuju dapur mencari sosok ibunya.
"ibu? ibu!" Nakahara berlari setelah melihat sosok Seiko yang terbaring di lantai dapur berlumuran darah. Terdapat tiga luka tusuk, masing masing di perut, pingganng dan dada.
"oh... tidak. apa yang terjadi... oh... tidak..." Panik, Nakahara tidak tahu harus berbuat apa. "Ibu, bertahanlah, aku akan memanggil ambulance." Nahakara menekan nomor darurat namun tidak ada jawaban. Diulanginya beberapa kali namun hasilnya tetap sama. Karena sibuk dengan panggilan darurat, Nakahara tidak menyadari terdapat api yang entah bersumber dari mana.
"Api? kenapa bisa ada api?!" bukannya membantu, api malah membuat Nakahara makin panik. Kemudian Nakahara teringat, mereka memiliki beberapa extinguishers di rumah. Nakahara hendak mengambilnya tapi sebelum dia mengambil langkah pertamanya, sesuatu memengang kakinya hingga membuat Nakahara terjatuh. penasaran dengan apapun yang memegang kakinya, Nakahara melihat sebuah tangan melingkar di sana.
tangan Seiko memegang erat pergelangan kaki Nakahara, matanya yang mengeluarkan darah menatap tajam Nakahara. kemudian api membesar dan melahap semuanya.

#GASP

Nakahara terbangun dari tidur singkatnya. Keningnya berkeringat dan nafasnya sesak, seolah baru saja menghirup asap yang banyak.
"Kau sudah bangun?" suara Seiko mengambil perhatian Nakahara dari mimpi buruknya. "Kau seharusnya tidak tidur di dapur." Seiko yang sedang mencuci piring berkata dengan senyum diwajahnya.
"Aku ketiduran." jawab Nakahara singkat.
"Katanya kau mau bekerja?" tanya Seiko, kali ini dia sudah selesai mencuci piring dan kini duduk meja makan. Berhadapan dengan Nakahara.
"Aku sedang tidak enak badan."
"Kalau begitu seharusnya kau istirahat di kamar." kata Seiko lagi, namun kali ni hanya disambut dengan keheningan yang menetap selama beberapa menit.
"Ibu..."
"Ya? apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Tadi ibu kemana?"
"Ibu tadi ke pasar." jawab Seiko menyeka rambutnya. Nakahara melihat kesekeliling kembali.
"ibu selalu ke pasar, tapi aku tidak pernah melihat belanjaan ibu."
"Sigh, Naka, kita harus selalu membeli sesuatu saat ke pasar kan?"
"Lalu apa yang ibu lakukan di pasar?"
"ibu hanya menemui teman disana. tunggu dulu, kenapa kau sangat ingin tahu?" Seiko mengerutkan keningnya.
"Tidak, tidak apa-apa." dan Lagi keheningan membatasi keduanya.
"Ibu, tadi aku bertemu Sharie." Nakahara kembali membuka perbincangan dengan tema yang berbeda.
"Benarkah? bagaimana kabarnya? oh, ibu rindu dengan gadis manis itu."
"Dia terlihat sehat." jawab Nakahara singkat. "Tapi ada perkataannya yang menggangguku."
"Oh, pertengkaran antar sahabat memang sudah biasa, tapi kalian selalu bisa berbaikan kan."
"Bukan, bukan itu. Sharie bilang aku sudah dua tahun menghilang. apa itu benar?" Seiko terdiam sejenak mendengar pertanyaan anaknya.
"Oh sayang, seharusnya kau yang paling tahu akan hal itu." kata Seiko tersenyum.
"Tapi aku tidak mengingat apapun bu. sejak terbangun dari tempat itu, aku tidak bisa mengingat semuanya." Nakahara terdengar frustasi.
"Tenanglah. memang butuh waktu, tapi kau pasti bisa."

***

"Jadi, siapa namamu?" tanya Sharie setelah meletakkan dua milkshake dan french fries di atas meja. Mereka saat ini sedang berada di sebuah cafe tidak jauh dari tempat mereka bertemu.
"Ryu-ryuko desu." jawab gadis berhodie yang duduk dihadapan Sharie.
"Lalu, apa maksud ucapanmu mengenai Nakahara, Ryu-chan?"
"Dia... dia itu berbeda, kau harus menjauhinya, dia hanya akan mEmbuatmu terjebak dalam kesulitan." tanpa sadar Ryuko menaikkan suaranya. dia memang tidak terlalu pandai berbicara dengan orang lain. Setelah menyadari hal itu, Ryuko cepat-cepat meminta maaf.
"Benarkah? Kalau begitu terima kasih Ryu-chan, sudah mau mengingatkanku walau kita tidak tidak saling kenal sebelumnya." kata Sharie tersenyum mendengar hal itu Ryuko hanya mengangguk kecil.
"Tapi... Naka-chan adalah sahabatku, sesulit apapun situasinya, aku tidak akan meninggalkannya begitu saja." lanjut Sharie.
"Tapi..."
"Tidak apa Ryu-chan. sekali lagi terima kasih." Sharie memotong ucapan Ryuko sebelum menyeruput milkshake miliknya.

To be continue...

Ghost ! part 2

Posted by atsuko's world
Tag :

// Copyright © My World //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed by Johanes Djogan //