Newest Post
Nakahara tidak yakin dengan apa
yang dia lakukan.. tadinya dia hanya berfikir apa harapan terakhir Seiko, dan
mereka berakhir seperti ini. Duduk di meja makan milik Sharie. Ada lima manusia
dan satu hantu di ruangan tersebut. Setidaknya itulah yang Nakahara tahu.
Mereka duduk melingkar di meja
makan yang bundar. Seiko, pemeran utama dalam makan malam ini duduk diantara
kedua anak kesayangannya, Aerish dan Popuri. Nakahara duduk diantara Sharie dan Ryuko. Ya,
meski harus menyeretnya Sharie akhirnya mau bergabung dengan makan malam ini.
Sedang Ryuko, dia hanya mengekor pada Sharie. Meski ini makan malam keluarga,
namun suasana terasa dingin dan sunyi.
"Aku
tidak percaya ini. Kau benar-benar menampakkan dirimu setelah dua tahun
menghilang. Dimana saja kau ha?" tanya Popuri. Nakahara dan Popuri memang
tidak pernah akur, dan sepertinya, Popuri percaya mengenai gossip itu. Gossip
yang mengatakan bahwa Nakahara adalah pelaku pembunuhan Seiko.
"Apa
tujuan makan malam ini Nakahara?" tanya Aerish tenang. Aerish yang memang
merupakan anak tertua dari tiga bersaudara itu memang terlihat yang paling
dewasa.
"Aku
hanya berfikir bahwa ibu menginginkannya ." jawab Nakahara singkat.
"Aku
tidak keberatan melakukan hal ini. toh ini yang terakhir kalinya." kata
Aerish lagi.
"Tunggu,
apa maksudnya yang terakhir kali?"
"Kita
sudah tidak memiliki tempat untuk pulang, karena itu, aku akan menetap di
tempatku bekerja."
"Aku juga
akan segera lulus dan melanjutkan kuliahku di luar negeri." tambah Popuri.
Nakahara tidak percaya dengan apa
yang dia dengar ini. Saudara-saudaranya hanya memikirkan diri mereka sendiri. Mereka
bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaan Nakahara. Nakahara hanya mampu
menggigit bibirnya. Dia tidak bisa berkata apapun. Karena akan percuma, dia
memang selalu kalah dari kedua saudaranya, bahkan sebelum dia membuka mulut,
dia selalu kalah.
Nakahara memperhatikan Seiko. Di
ruangan ini hanya dirinya dan Ryuko yang mampu melihatnya. Seiko terlihat
tenang, tidak terpengaruh dengan ucapan saudaranya. Itu artinya dia tidak keberatan
dengan rencana mereka. Jika sudah seperti ini, Nakahara sudah benar-benar
kalah.
Sharie melihat Nakahara denga
ekspresi khawatirnya. Gadis yang kini dipandanginya sedari tadi hanya bermain
dengan makanannya. Pikiran Nakahara seperti sedang berada di tempat lain. Mungkin
perkataan kakaknya yang membuatnya demikian. Tapi Shaire bisa apa? dia hanya
mampu melihat. Dia tidak ingin ikut campur masalah keluarga orang lain, dan
Sharie tahu, Nakahara tidak akan senang jika dia sampai ikut campur. Yang bisa
Sharie lakukan kini hanya memberinya kekuatan untuk lebih tegar.
"Oh..."
suara Makio terdengar di dalam ruangan. Semua manusia yang berada di dalam
ruangan menoleh ke sumber suara. Mereka mendapati Makio sedang berdiri di
ambang pintu dengan kedua tangan yang tersembunyi di saku jaketnya.
"Maaf,
aku tidak tahu kau sedang ada tamu, Shar." kata Makio dengan ekspresi
bersalah.
"Maki-chan.
Kenapa kau ada di sini?" Sharie berdiri dari bangkunya dan menghampiri
Makio yang masih berdiri di tempatnya.
"Kau
tidak mengangkat telepon maupun membalas pesan dariku. Aku jadi khawatir,
makanya aku kemari. Aku sudah membunyikan bell berkali-kali kau tidak membuka
pintu dan saat ku cek pintu tidak terkunci. Kau membuatku khawatir, kupikir
terjadi sesuatu yang buruk padamu." jelas Makio.
"Maaf,
aku tidak sempat mengabarimu." kata Sharie menyesal.
"Ya
sudah. kalau begitu aku pulang saja." Makio melihat orang-orang yang
berada di dalam ruangan.
"Maaf
sudah mengganggu acara kalian." lanjutnya sembari membungkuk lalu kemudian
pergi. Sharie mengantaR Makio hingga pintu depan sebelum akhirnya mengucapkan
perpisahan.
Sharie duduk di tempat yang sama
setelah dia mengatar Makio. dilihatnya Nakahara masih diam dengan ekspresi yang
sama, dan Ryuko. Ryuko yang semula hanya diam kini terlihat begitu gugup dan
cemas. Apa terjadi sesuatu saat dia pergi? pikir Sharie.
Setelah makan malam yang teramat
sangat tidak nyaman, Para tamu, aka Aerish dan Popuri berpamitan dengan pemilik
rumah aka Sharie. Meja makan kini sepi, hanya ada mereka berempat.
"Terima
kasih untuk makan malamnya Nakahara." kata Seiko tersenyum.
"Tapi
sepertinya tidak sesuai dengan harapan kan?" kata Nakahara. Sharie dan
Ryuko berdiri dari tempat duduk mereka dan pergi dari ruangan, berharap dapat
memberi mereka privasi. yah walau hanya Ryuko nantinya yang mengerti percakapan
keduanya, tapi mereka tetap melakukannya.
"Aku
tahu. tapi rasanya tidak akan perbedaan dulu maupun sekarang. karena memang
seperti inlah keluarga kita." kata Seiko lagi. Kali ini Nakahara hanya
terdiam.
"Aku
minta maaf, karena sudah menyalahkanmu atas semuanya. Padahal aku tahu kau juga
sangat menderita." lanjut Seiko. Nakahara kini mengerutkan keningnya, ke
arah mana percakapan ini berlanjut?
"Aku bisa
melihatnya, dirimu yang sebenarnya, dan dari situ aku melihat hal yang
mengerikan. Kau pasti sangat menderita." kini Seiko mulai menangis,
mendekati Nakahara dan memeluknya.
"aku
tidak membencimu. aku hanya terlalu rindu pada mereka. maafkan aku ya."
"Aku
tidak mengerti." kata Nakahara.
"Tidak
apa, kau akan segera mengingatnya. mengingat penculikmu dan hari-hari yang kau
lewati bersamanya." kali ini merupakan kalimat terakhir Seiko sebelum dia
lenyap bagaikan dandelion yang tertiup angin.
Seiko sudah
tidur dalam damai. meninggalkan Nakahara sendiri di tengah ruangan yang sepi.
terlihat tangannya gemetar dan ekspresi horror tergambar di wajahnya. Dia mengingat
sesuatu. berkat perkataan Seiko, dia mendapatkan kembali ingatannya.
Nakahara berlari menuju kamar dimana
Sharie dan Ryuko berada. Membuka pintu dan berlari ke arah Ryuko sebelum
mencengkram kedua lengannya kuat.
"Kau tahu, kau tahu
kan?" tanya Nakahara hampir menangis. Ryuko hanya menggigit bibirnya
sebelum mengangguk.
"Maafkan aku."gumam
Ryuko, membuat Nakahara terduduk dan menangis.
To be continue...
Tag :// story
Nakahara membuka matanya. Tubuhnya terasa begitu lelah,
kepalanya masih terasa nyeri.
"K-kau sudah
b-b-bangun?" tanya Ryuko terbata-bata dari pojok ruangan. Sepertinya dia
sangat menjaga jarak dengan Nakahara.
"Kau siapa dan dimana
ini?" tanya Nakahara, menyadari bahwa sekali lagi dia berada di tempat
yang asing. Mungkin tidak lama lagi, ini akan menjadi hobi baru untuknya. Hobi 'terbangun
di tempat asing'.
"A-aku Ryuko, dan kita ada
di apartement Sharie." jawab Ryuko.
"Dia temanku."
Tiba-tiba Sharie muncul dari balik pintu. Membawa semangkuk sup dan segelas air
di atas nampan. "Apa kau lapar? aku membuatkan ini untukmu." Sharie
meletakkan nampan itu di atas meja.
"Dia tidak
membutuhkannya." gumam Ryuko yang masih dapat di dengar oleh kedua
penghuni kamar lainnya.
"Dia benar, aku tidak
lapar." tambah Nakahara. "Dan lagi, kau sama sekali tidak berubah
Sharie. Selalu mudah percaya pada orang lain. Ini akan berbahaya untuk dirimu
sendiri." lanjut Nakahara.
"Jangan begitu, Ryu-chan ini
baik. Aku bertemu dengannya pagi ini saat dia menyuruhku untuk
berhati-hati."
"Kau bahkan belum 24 jam
mengenalnya, tapi sudah menganggapnya baik. Ini sama seperti Makio dulu."
"Naka-chan! kau mengkin baru
mengenal Makio selama 6 bulan dan Ryuko selama 5 menit. Tapi sekarang aku sudah
mengenal Makio selama 2 setengah tahun dan Ryuko hampir 12 jam, jadi aku yang
lebih tahu." kata Sharie cemberut.
"Terserah kau saja."
Nakahara mengalah, lalu semuanya diam.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Nakahara kembali
membuka mulutnya.
"Sharie..."
"hm?"
"Apa maksudmu dengan ibuku
yang meninggal dalam kebakaran dua tahun lalu?" tanya Nakahara.
"Ah... itu..." Sharie
berfikir sejenak, dia tidak yakin bagaimana harus menjelaskan pada sahabatnya
ini."
"Dua tahun lalu dihari akan
diadakan makan malam itu, rumahmu terbakar dan Seiko-san tewas dalam kebakaran
itu. tapi..." Sharie mengambil
nafas panjang. "Dari hasil otopsi, ditemukan tiga luka tusuk di tubuh
Seiko-san. Polisi mengira kebakaran itu adalah ulah dari orang yang menusuknya.
Dan di hari itu juga kau menghilang tanpa jejak. Beberapa dari mereka
mengira,... kau lah pelakunya." kata Sharie menatap Nakahara." Tapi
aku tidak percaya akan hal itu! aku percaya kau tidak mungkin melukai Seiko-san
seperti itu!"
Nakahara tidak mampu berkata-kata. dia masih belum percaya
bahwa ibunya telah mati. Lalu kejadian pagi ini apa? Saat dia melihat sosok
Seiko, saat mereka berbincang berdua. Nakahara mengingat mimpi itu, mimpi yang
terasa sangat nyata. Dia bahkan tidak tahu lagi, apa itu benar-benar mimpi atau
kenyataan
"Entahlah Sharie, aku tidak
tahu apa-apa lagi."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak bisa mengingat
apa yang terjadi selama dua tahun ini, bahkan kejadian makan malam itu. tapi
mungkin mereka benar. Mungkin akulah pelakunya, karena... ibu mengatakan bahwa
dia tidak bisa memaafkanku."
"Kapan dia mengatakan hal
itu?" tanya Sharie bingung.
"Tepat sebelum kalian
menemukanku."
"Naka-chan! itu tidak
mungkin. Kau pasti sedang bermimpi. Seiko-san itu sudah mati."
"Se-sebenarnya itu M-Mungkin saja terjadi." Tiba-tiba Ryuko
mengeluarkan suara. Sharie dan Nakahara bahkan hampir lupa bahwa gadis itu
masih di kamar bersama mereka.
"Se-sebenarnya aku bisa
m-melihat hal semacam itu." lanjut Ryuko.
"Hal semacam itu?"
Sharie sepertinya membutuhkan penjelasan lebih rinci.
"Sesuatu yang kalian sebut
hantu, roh, fairy. sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia
normal."
"ooo... aku tidak suka ini. Kku
tidak suka cerita hantu, jadi bisa tolong kita hentikan pembicaraan ini?"
pinta Sharie.
"Jadi maksudmu, ibu yang
kutemui pagi dan siang ini adalah hantu?"
"Naka-chan!" protes
Sharie, namun Nakahara mengabaikannya.
"Y-ya. terkadang, manusia
mengalami tekanan emosi menjelang k-kematiannya. keputusasaan, k-kemarahan,
kebencian. emosi yang terlalu kuat itu akan menyebabkan roh mereka terjebak d-di
dunia manusia. Mereka memiliki keinginan dan harapan terakhir yang belum
terlaksana, oleh sebab itu m-mereka tidak bisa pergi ke dunia roh."
"Jadi menurutmu, ibuku
memiliki urusan yang belum terselesaikan? oleh karena itu dia masih menampakkan
dirinya padaku?"
"Bisa jadi seperti
itu." jawab Ryuko.
"Dengar, aku bukan penggemar
cerita horror maupun misteri, dan jujur itu karena aku takut. Tapi jika memang
yang dikatakan Ryu-chan benar. adakah sesuatu yang bisa kita lakukan untuk
membuat roh Seiko-san beristirahat dalam damai?"
"A-aku tidak ingin terlibat
dalam hal ini. Hidupku sudah cukup kacau karena kemampuan ini. dan A-aku harap
kau juga tidak terlibat dalam masalah ini Sharie."
"Tidak masalah jika kau tidak mau membantu, tapi
setidaknya beritahu aku, kira-kira apa keinginan terakhir ibuku." kata
Nakahara memohon.
"K-kau bisa mengetahuinya melalui kata-kata yang di
sampaikannya padamu." Nakahara berfikir sejenak. Mengingat segala ucapan
Seiko hari ini.
To be continue...
Tag :// story
Tut.....tut.....tut.....tut.....tut.....tut
Makio melempar smart phonenya ke
atas ranjang, kesal karena Sharie tak kunjung menganggkat panggilannya. Terakhir
kali mereka bicara melalu telepon Sharie memutuskan sambungan tiba-tiba setelah
berkata 'She is back'.
"What the meaning of this?" gumam
Makio.
Lelah memikirkan hal yang tidak
dimengerti olehnya, Makio hanya mampu berguling-guling di ranjang sebelum
akhirnya bangkit dan memakai jaket miliknya.
"Saatnya
menghirup udara segar." seru Makio keluar dari apartement miliknya dan
turun ke bawah.
Cuaca hari ini sangat cerah,
orang-orang terlihat bersemangat menjalani segala aktivitas mereka. Makio juga
demikian, dia terus melangkahkan kakinya sembari bersiul dengan kedua tangan di
saku jaketnya.
step by step, step by step
Tidak berfikir harus kemana,
Makio hanya mengikuti kemana kakinya akan membawanya.
"Seharusnya
aku tidak ke sini." gumam Makio melihat ke depan. Kakinya membawanya
kemari, ke rumah Nakahara atau lebih tepatnya tempat yang dulunya menjadi rumah
Nakahara, setidaknya sebelum kejadian itu.
"Membuatku
teringat tahun-tahun yang pernah kami lewati bersama. Saat itu begitu
menyenangkan, ah... aku benar-benar merindukannya." seru Makio sebelum
akhirnya terduduk dan menangis.
Makio bertahan dalam posisi
seperti itu selama beberapa menit, menghiraukan orang-orang yang lalu lalang di
depannya, mengacuhkan tatapan aneh mereka. Setelah dirasa puas, Makio bangkin
dan pergi.
***
Nakahara mengetuk-ketukkan
jarinya ke meja. keningnya berkerut karena berfikir keras.
"Aku rasa
aku mengingat sesuatu." kata Nakahara. dirinya dan Seiko masih di tempat
yang sama, dapur. Masih membicarakan hal yang sama, ingatan Nakahara.
"Dan apa
itu?" tanya Seiko penasaran.
"Makan
malam. bukankah kita akan mengadakan makan malam dengan Aerish-nee dan
Popuri?" kata Nakahara. Seiko terdiam sejenak, wajahnya menampakkan
kesedihan yang teramat sangat.
"Ya, kau
benar, tapi makan malam itu tidak pernah terlaksana." suara Seiko
terdengar begitu lesu.
"eh?
kenapa? Bukankah makan malam itu sangat penting bagi kita. Setelah sekian lama
sibuk dengan pekerjaannya Aerish-nee akhirnya bisa meluangkan waktunya untuk
kita, dan Popuri, akhirnya pulang setelah bertahun-tahun sekolah di luar
negeri."
"Yah, aku
tahu, ibu juga menyayangkan hal itu." kata Seiko.
"Apa
mereka tidak jadi datang?"
"Mereka
datang, walau memang sedikit terlambat." Seiko terdiam lagi untuk beberapa
saat. Tiba-tiba ruangan terasa begitu panas dan sesak. Nakahara yang
menyadarinya segera bangkit dari kursi dan melihat sekeliling. berbeda dengan
anaknya, Seiko hanya terduduk tenang.
"kenapa
disini panas sekali."
"Ah.. ibu
benar-benar ingin memaafkanmu tapi sangat sulit." kata-kata Seiko menarik
perhatian Nakahara. "Aku tidak habis pikir, kenapa harus Aerish dan Popuri
yang pergi dan bukannya kau? Dan betapa sulitnya menemui mereka!" lanjut
Seiko meninggikan nada suaranya.
"ibu? apa
yang kau bicarakan?"
"Saat semuanya
sudah sempurna! You and that brat!"
suhu dalam ruangan semakin panas tapi Nakahara tidak memperdulikannya. Dia
lebih ketakutan melihat kondisi Seiko. Perlahan darah keluar dari perut,
pinggang, dada dan mulut Seiko. Seakan terbuat dari lilin, kulit Seiko meleleh
karena suhu ruangan yang tinggi. mereka seperti dikepung dengan api. tercium
bau daging matang.
"this is... this is a dream, this is a dream,
this is a dream." Nakahara mengulang kata yang sama seperti sedang
membaca mantra.
"Ini
bukan mimpi sayang." Kini seluruh tubuh Seiko sudah gosong sehitam arang
yang baru terbakar. Nakahara yang ketakutan akhirnya berlari meninggalkan dapur
dan keluar rumah, namun dia tersandung dan terjatuh tepat di depan pintu agar
rumahnya.
"Ugh..."
kepala Nakahara kembali terasa nyerri.
"Naka-chan?"
Nakahara menganggkat kepalanya dan melihat si pemilik suara. Sharie dan satu
lagi orang asing di belakangnya, dia terlihat gelisah.
"Sharie?"
"Apa yang
sedang kau lakukan di sini?"
"aku...
aku..." Nakahara tidak mampu berkata-kata, dia berbalik untuk melihat
rumahnya yang ternyata hanyalah reruntuhan dari bangunan yang habis terbakar. yah,
reruntuhan itu dulunya adalah rumah Nakahara.
"Ibu...
tadi ibu..." Nakahara semakin tidak mengerti.
"Maafkan
aku, aku tidak sempat memberitahumu mengenai Seiko-san. dia... dia sudah
meninggal dalam kebakaran dua tahun lalu." kata Sharie sembari membantu
Nakahara berdiri.
"Itu
tidak mungkin." kata Nakahara sebelum dunianya menjadi gelap dan dia
kembali terjatuh ke tanah.
To be
continue...
Tag :// story
"Sharie! Sharie!"
Nakahara mengeraskan suaranya, berusaha membangunkan sahabatnya yang seperti
terjebak dalam mantra. Sedari tadi dia hanya diam. Sebelumnya, Sharie menatap
Nakahara seperti layaknya melihat hantu, tapi kini yang dilakukannya hanya
membeku di tempat.
"Sharie!" kali ini
teriakan Nakahara berhasil menyadarkan Sharie.
"Na-Naka-chan, apa itu
benar-benar kau?" tanya Sharie dengan suara yang bergetar.
"Tentu saja ini aku, memang
siapa lagi?" Nakahara tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Diperhatikannya
Sharie lekat-lekat, dia terlihat lebih mature
dari kali terakhir mereka bertemu. Tunggu, kapan kali terakhir mereka bertemu?
mungkin sekitar tiga hari yang lalu. Ah... Nakahara merasa sangat kesulitan
dalam mengingat sesuatu semenjak keluar dari tempat itu.
"Aku... aku tidak percaya
dengan apa yang kulihat." kali ini mata Sharie mulai berkaca-kaca dan
gadis itu memeluk Nakahara sekuat yang dia bisa, seakan takut kehilangannya.
"Ada apa? Kenapa kau aneh
begini? Apa kau sedang sakit? hm? Apa ada yang mengganggumu? Katakan padaku,
akan aku urus mereka semua!" celoteh Nakahara sembari mengelus punggung
sahabatnya yang kini sedang menangis.
"Tidak, aku tidak apa-apa
aku hanya senang melihatmu." Sharie menggelengkan kepala sembari mengusap
matanya yang basah. Kini dia sudah melepaskan pelukan mautnya.
"Tentu saja, siapa yang
tidak senang melihatku?" kata Nakahara menggoda.
"Yah, ini sudah dua tahun
lamanya." Sharie tersadar, betapa dia merindukan sikap Nakahara yang
seperti ini sampai-sampai tidak memperhatikan ekspresi nakahara mendengar
kata-katanya
"Tunggu, apa maksudmu dua
tahun? bukankah kita baru bertemu beberapa hari yang lalu? apa kau sedang
mabuk?" kata Nakahara keheranan.
"beberapa hari? ini sudah
dua tahun sejak kau menghilang Naka-chan!" kata Sharie mulai terrlihat
khawatir dengan sahabatnya itu. "Apa kau baik-baik saja? apa terjadi sesuatu?
kau terlihat kebingungan, dan dimana saja kau selama ini?" Nakahara berusaha
mencerna setiap pertanyaan Sharie. Tapi semakin dia mencoba, kepalanya semakin
terasa sakit.
"Ugh!" Nakahara
memegang kepalanya dengan kedua tangan karena sakit yang teramat sangat.
"Naka-chan!"
"Tidak, aku tidak apa-apa
Sharie. Mungkin sebaiknya aku pulang." dengan terhuyung-huyung, Nakahara
mulai mengambil langkah.
"Naka-chan!" Nakahara
terlalu bingung untuk mendengar panggilan Sharie. " Aku belum
memberitahumu mengenai Reiko-san!" namun kini Nakahara sudah hilang di
tengah kerumunan.
"Sigh, apa dia akan
baik-baik saja." gumam Sharie sebelum #BUKK dia menabrak seseorang.
"Oh, maafkan aku."
Sharie cepat-cepat meminta maaf walau tidak tahu pasti siapa sebenarnya yang
salah.
"Kau sebaiknya tidak berurusan
dengan gadis itu." kata seseorang yang ditrabak Sharie. Sharie mengamati
si pemilik suara itu, seorang gadis dengan hoodie yang menutupi sebagian
wajahnya. dia terlihat sangat suram.
"Maaf kau siapa? dan apa
maksud kata-katamu barusan?
***
Kepalanya masih berdenyut, tapi Nakahara memaksa tubuhnya
untuk terus melangkah. Semakin dipikir, semakin bingung Nakahara dibuatnya.
Kata-kata Sharie. Apa maksudnya dua tahun? Apa dia memang pergi selama itu? Tapi
Nakahara juga tidak bisa memastikannya karena dia sendiri tidak mengingat
kejadian sebelum dia terbangun di tempat asing itu.
Kalau diamati, mungkin ada benarnya juga. Nakahara baru
sadar bahwa terdapat banyak bangunan baru yang tidak pernah dia lihat
sebelumnya. Nakahara berfikir mungkin memang benar dua tahun. tapi kenapa
Nakahara tidak mengingat apapun? dan Seiko, ibu Nakahara tidak mengatakan
apapun soal ini. Padahal, biasanya Seiko selalu marah jika Nakahara pulang
terlambat tanpa memberi kabar.
"Mungkin akan kutanyakan
nanti." guamam Nakahara.
berjalan sembari berfikir membuat Nakahara tidak menyadari
bahwa dia sudah sampai di depan rumahnya. Bangunan yang kini berdiri di
hadapannya terlihat sama, sepi dan sunyi.
"Ibu, aku pulang!"
teriak Nakahara membuka pintu depan, Namun tidak ada jawaban. "Ibu? apa
ibu dirumah?" Nakahara berjalan menuju dapur mencari sosok ibunya.
"ibu? ibu!" Nakahara
berlari setelah melihat sosok Seiko yang terbaring di lantai dapur berlumuran
darah. Terdapat tiga luka tusuk, masing masing di perut, pingganng dan dada.
"oh... tidak. apa yang
terjadi... oh... tidak..." Panik, Nakahara tidak tahu harus berbuat apa. "Ibu,
bertahanlah, aku akan memanggil ambulance." Nahakara menekan nomor darurat
namun tidak ada jawaban. Diulanginya beberapa kali namun hasilnya tetap sama. Karena
sibuk dengan panggilan darurat, Nakahara tidak menyadari terdapat api yang
entah bersumber dari mana.
"Api? kenapa bisa ada
api?!" bukannya membantu, api malah membuat Nakahara makin panik. Kemudian
Nakahara teringat, mereka memiliki beberapa extinguishers di rumah. Nakahara
hendak mengambilnya tapi sebelum dia mengambil langkah pertamanya, sesuatu
memengang kakinya hingga membuat Nakahara terjatuh. penasaran dengan apapun
yang memegang kakinya, Nakahara melihat sebuah tangan melingkar di sana.
tangan Seiko memegang erat pergelangan kaki Nakahara,
matanya yang mengeluarkan darah menatap tajam Nakahara. kemudian api membesar
dan melahap semuanya.
#GASP
Nakahara terbangun dari tidur singkatnya. Keningnya
berkeringat dan nafasnya sesak, seolah baru saja menghirup asap yang banyak.
"Kau sudah bangun?"
suara Seiko mengambil perhatian Nakahara dari mimpi buruknya. "Kau
seharusnya tidak tidur di dapur." Seiko yang sedang mencuci piring berkata
dengan senyum diwajahnya.
"Aku ketiduran." jawab
Nakahara singkat.
"Katanya kau mau
bekerja?" tanya Seiko, kali ini dia sudah selesai mencuci piring dan kini
duduk meja makan. Berhadapan dengan Nakahara.
"Aku sedang tidak enak
badan."
"Kalau begitu seharusnya kau
istirahat di kamar." kata Seiko lagi, namun kali ni hanya disambut dengan
keheningan yang menetap selama beberapa menit.
"Ibu..."
"Ya? apa ada sesuatu yang
mengganggumu?"
"Tadi ibu kemana?"
"Ibu tadi ke pasar." jawab
Seiko menyeka rambutnya. Nakahara melihat kesekeliling kembali.
"ibu selalu ke pasar, tapi
aku tidak pernah melihat belanjaan ibu."
"Sigh, Naka, kita harus
selalu membeli sesuatu saat ke pasar kan?"
"Lalu apa yang ibu lakukan
di pasar?"
"ibu hanya menemui teman
disana. tunggu dulu, kenapa kau sangat ingin tahu?" Seiko mengerutkan
keningnya.
"Tidak, tidak apa-apa."
dan Lagi keheningan membatasi keduanya.
"Ibu, tadi aku bertemu
Sharie." Nakahara kembali membuka perbincangan dengan tema yang berbeda.
"Benarkah? bagaimana
kabarnya? oh, ibu rindu dengan gadis manis itu."
"Dia terlihat sehat."
jawab Nakahara singkat. "Tapi ada perkataannya yang menggangguku."
"Oh, pertengkaran antar
sahabat memang sudah biasa, tapi kalian selalu bisa berbaikan kan."
"Bukan, bukan itu. Sharie
bilang aku sudah dua tahun menghilang. apa itu benar?" Seiko terdiam
sejenak mendengar pertanyaan anaknya.
"Oh sayang, seharusnya kau
yang paling tahu akan hal itu." kata Seiko tersenyum.
"Tapi aku tidak mengingat
apapun bu. sejak terbangun dari tempat itu, aku tidak bisa mengingat
semuanya." Nakahara terdengar frustasi.
"Tenanglah. memang butuh
waktu, tapi kau pasti bisa."
***
"Jadi, siapa namamu?"
tanya Sharie setelah meletakkan dua milkshake dan french fries di atas meja. Mereka
saat ini sedang berada di sebuah cafe tidak jauh dari tempat mereka bertemu.
"Ryu-ryuko desu." jawab
gadis berhodie yang duduk dihadapan Sharie.
"Lalu, apa maksud ucapanmu
mengenai Nakahara, Ryu-chan?"
"Dia... dia itu berbeda, kau
harus menjauhinya, dia hanya akan mEmbuatmu terjebak dalam kesulitan."
tanpa sadar Ryuko menaikkan suaranya. dia memang tidak terlalu pandai berbicara
dengan orang lain. Setelah menyadari hal itu, Ryuko cepat-cepat meminta maaf.
"Benarkah? Kalau begitu
terima kasih Ryu-chan, sudah mau mengingatkanku walau kita tidak tidak saling
kenal sebelumnya." kata Sharie tersenyum mendengar hal itu Ryuko hanya
mengangguk kecil.
"Tapi... Naka-chan adalah
sahabatku, sesulit apapun situasinya, aku tidak akan meninggalkannya begitu
saja." lanjut Sharie.
"Tapi..."
"Tidak apa Ryu-chan. sekali
lagi terima kasih." Sharie memotong ucapan Ryuko sebelum menyeruput
milkshake miliknya.
To be continue...
Tag :// story

