Newest Post
"Sharie! Sharie!"
Nakahara mengeraskan suaranya, berusaha membangunkan sahabatnya yang seperti
terjebak dalam mantra. Sedari tadi dia hanya diam. Sebelumnya, Sharie menatap
Nakahara seperti layaknya melihat hantu, tapi kini yang dilakukannya hanya
membeku di tempat.
"Sharie!" kali ini
teriakan Nakahara berhasil menyadarkan Sharie.
"Na-Naka-chan, apa itu
benar-benar kau?" tanya Sharie dengan suara yang bergetar.
"Tentu saja ini aku, memang
siapa lagi?" Nakahara tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Diperhatikannya
Sharie lekat-lekat, dia terlihat lebih mature
dari kali terakhir mereka bertemu. Tunggu, kapan kali terakhir mereka bertemu?
mungkin sekitar tiga hari yang lalu. Ah... Nakahara merasa sangat kesulitan
dalam mengingat sesuatu semenjak keluar dari tempat itu.
"Aku... aku tidak percaya
dengan apa yang kulihat." kali ini mata Sharie mulai berkaca-kaca dan
gadis itu memeluk Nakahara sekuat yang dia bisa, seakan takut kehilangannya.
"Ada apa? Kenapa kau aneh
begini? Apa kau sedang sakit? hm? Apa ada yang mengganggumu? Katakan padaku,
akan aku urus mereka semua!" celoteh Nakahara sembari mengelus punggung
sahabatnya yang kini sedang menangis.
"Tidak, aku tidak apa-apa
aku hanya senang melihatmu." Sharie menggelengkan kepala sembari mengusap
matanya yang basah. Kini dia sudah melepaskan pelukan mautnya.
"Tentu saja, siapa yang
tidak senang melihatku?" kata Nakahara menggoda.
"Yah, ini sudah dua tahun
lamanya." Sharie tersadar, betapa dia merindukan sikap Nakahara yang
seperti ini sampai-sampai tidak memperhatikan ekspresi nakahara mendengar
kata-katanya
"Tunggu, apa maksudmu dua
tahun? bukankah kita baru bertemu beberapa hari yang lalu? apa kau sedang
mabuk?" kata Nakahara keheranan.
"beberapa hari? ini sudah
dua tahun sejak kau menghilang Naka-chan!" kata Sharie mulai terrlihat
khawatir dengan sahabatnya itu. "Apa kau baik-baik saja? apa terjadi sesuatu?
kau terlihat kebingungan, dan dimana saja kau selama ini?" Nakahara berusaha
mencerna setiap pertanyaan Sharie. Tapi semakin dia mencoba, kepalanya semakin
terasa sakit.
"Ugh!" Nakahara
memegang kepalanya dengan kedua tangan karena sakit yang teramat sangat.
"Naka-chan!"
"Tidak, aku tidak apa-apa
Sharie. Mungkin sebaiknya aku pulang." dengan terhuyung-huyung, Nakahara
mulai mengambil langkah.
"Naka-chan!" Nakahara
terlalu bingung untuk mendengar panggilan Sharie. " Aku belum
memberitahumu mengenai Reiko-san!" namun kini Nakahara sudah hilang di
tengah kerumunan.
"Sigh, apa dia akan
baik-baik saja." gumam Sharie sebelum #BUKK dia menabrak seseorang.
"Oh, maafkan aku."
Sharie cepat-cepat meminta maaf walau tidak tahu pasti siapa sebenarnya yang
salah.
"Kau sebaiknya tidak berurusan
dengan gadis itu." kata seseorang yang ditrabak Sharie. Sharie mengamati
si pemilik suara itu, seorang gadis dengan hoodie yang menutupi sebagian
wajahnya. dia terlihat sangat suram.
"Maaf kau siapa? dan apa
maksud kata-katamu barusan?
***
Kepalanya masih berdenyut, tapi Nakahara memaksa tubuhnya
untuk terus melangkah. Semakin dipikir, semakin bingung Nakahara dibuatnya.
Kata-kata Sharie. Apa maksudnya dua tahun? Apa dia memang pergi selama itu? Tapi
Nakahara juga tidak bisa memastikannya karena dia sendiri tidak mengingat
kejadian sebelum dia terbangun di tempat asing itu.
Kalau diamati, mungkin ada benarnya juga. Nakahara baru
sadar bahwa terdapat banyak bangunan baru yang tidak pernah dia lihat
sebelumnya. Nakahara berfikir mungkin memang benar dua tahun. tapi kenapa
Nakahara tidak mengingat apapun? dan Seiko, ibu Nakahara tidak mengatakan
apapun soal ini. Padahal, biasanya Seiko selalu marah jika Nakahara pulang
terlambat tanpa memberi kabar.
"Mungkin akan kutanyakan
nanti." guamam Nakahara.
berjalan sembari berfikir membuat Nakahara tidak menyadari
bahwa dia sudah sampai di depan rumahnya. Bangunan yang kini berdiri di
hadapannya terlihat sama, sepi dan sunyi.
"Ibu, aku pulang!"
teriak Nakahara membuka pintu depan, Namun tidak ada jawaban. "Ibu? apa
ibu dirumah?" Nakahara berjalan menuju dapur mencari sosok ibunya.
"ibu? ibu!" Nakahara
berlari setelah melihat sosok Seiko yang terbaring di lantai dapur berlumuran
darah. Terdapat tiga luka tusuk, masing masing di perut, pingganng dan dada.
"oh... tidak. apa yang
terjadi... oh... tidak..." Panik, Nakahara tidak tahu harus berbuat apa. "Ibu,
bertahanlah, aku akan memanggil ambulance." Nahakara menekan nomor darurat
namun tidak ada jawaban. Diulanginya beberapa kali namun hasilnya tetap sama. Karena
sibuk dengan panggilan darurat, Nakahara tidak menyadari terdapat api yang
entah bersumber dari mana.
"Api? kenapa bisa ada
api?!" bukannya membantu, api malah membuat Nakahara makin panik. Kemudian
Nakahara teringat, mereka memiliki beberapa extinguishers di rumah. Nakahara
hendak mengambilnya tapi sebelum dia mengambil langkah pertamanya, sesuatu
memengang kakinya hingga membuat Nakahara terjatuh. penasaran dengan apapun
yang memegang kakinya, Nakahara melihat sebuah tangan melingkar di sana.
tangan Seiko memegang erat pergelangan kaki Nakahara,
matanya yang mengeluarkan darah menatap tajam Nakahara. kemudian api membesar
dan melahap semuanya.
#GASP
Nakahara terbangun dari tidur singkatnya. Keningnya
berkeringat dan nafasnya sesak, seolah baru saja menghirup asap yang banyak.
"Kau sudah bangun?"
suara Seiko mengambil perhatian Nakahara dari mimpi buruknya. "Kau
seharusnya tidak tidur di dapur." Seiko yang sedang mencuci piring berkata
dengan senyum diwajahnya.
"Aku ketiduran." jawab
Nakahara singkat.
"Katanya kau mau
bekerja?" tanya Seiko, kali ini dia sudah selesai mencuci piring dan kini
duduk meja makan. Berhadapan dengan Nakahara.
"Aku sedang tidak enak
badan."
"Kalau begitu seharusnya kau
istirahat di kamar." kata Seiko lagi, namun kali ni hanya disambut dengan
keheningan yang menetap selama beberapa menit.
"Ibu..."
"Ya? apa ada sesuatu yang
mengganggumu?"
"Tadi ibu kemana?"
"Ibu tadi ke pasar." jawab
Seiko menyeka rambutnya. Nakahara melihat kesekeliling kembali.
"ibu selalu ke pasar, tapi
aku tidak pernah melihat belanjaan ibu."
"Sigh, Naka, kita harus
selalu membeli sesuatu saat ke pasar kan?"
"Lalu apa yang ibu lakukan
di pasar?"
"ibu hanya menemui teman
disana. tunggu dulu, kenapa kau sangat ingin tahu?" Seiko mengerutkan
keningnya.
"Tidak, tidak apa-apa."
dan Lagi keheningan membatasi keduanya.
"Ibu, tadi aku bertemu
Sharie." Nakahara kembali membuka perbincangan dengan tema yang berbeda.
"Benarkah? bagaimana
kabarnya? oh, ibu rindu dengan gadis manis itu."
"Dia terlihat sehat."
jawab Nakahara singkat. "Tapi ada perkataannya yang menggangguku."
"Oh, pertengkaran antar
sahabat memang sudah biasa, tapi kalian selalu bisa berbaikan kan."
"Bukan, bukan itu. Sharie
bilang aku sudah dua tahun menghilang. apa itu benar?" Seiko terdiam
sejenak mendengar pertanyaan anaknya.
"Oh sayang, seharusnya kau
yang paling tahu akan hal itu." kata Seiko tersenyum.
"Tapi aku tidak mengingat
apapun bu. sejak terbangun dari tempat itu, aku tidak bisa mengingat
semuanya." Nakahara terdengar frustasi.
"Tenanglah. memang butuh
waktu, tapi kau pasti bisa."
***
"Jadi, siapa namamu?"
tanya Sharie setelah meletakkan dua milkshake dan french fries di atas meja. Mereka
saat ini sedang berada di sebuah cafe tidak jauh dari tempat mereka bertemu.
"Ryu-ryuko desu." jawab
gadis berhodie yang duduk dihadapan Sharie.
"Lalu, apa maksud ucapanmu
mengenai Nakahara, Ryu-chan?"
"Dia... dia itu berbeda, kau
harus menjauhinya, dia hanya akan mEmbuatmu terjebak dalam kesulitan."
tanpa sadar Ryuko menaikkan suaranya. dia memang tidak terlalu pandai berbicara
dengan orang lain. Setelah menyadari hal itu, Ryuko cepat-cepat meminta maaf.
"Benarkah? Kalau begitu
terima kasih Ryu-chan, sudah mau mengingatkanku walau kita tidak tidak saling
kenal sebelumnya." kata Sharie tersenyum mendengar hal itu Ryuko hanya
mengangguk kecil.
"Tapi... Naka-chan adalah
sahabatku, sesulit apapun situasinya, aku tidak akan meninggalkannya begitu
saja." lanjut Sharie.
"Tapi..."
"Tidak apa Ryu-chan. sekali
lagi terima kasih." Sharie memotong ucapan Ryuko sebelum menyeruput
milkshake miliknya.
To be continue...
Tag :// story
Nakahara POV
Aku terbangun seperti orang yang
baru saja dikejutkan dengan suara keras. Aku melihat ke sekeliling. Ruangan
gelap dan pengap. Dimana ini? Kenapa aku bisa berada di sini? Pertanyaan-pertanyaan
itulah yang pertama kali muncul di pikiranku.
Aku berusaha bangkit dan berdiri,
saat itu aku tersadar bahwa seluruhku tubuhku terasa sakit dan kepalaku
berdenyut seakan mau pecah. Sensasi ini membuatku jatuh terduduk sebelum kucoba
untuk bangkit kembali.
Tempat ini sangat gelap. Aku
tidak bisa melihat apapun, bahkan ujung jariku sendiri tak nampak olehku. Aku
harus meraba-raba saat berjalan. Dengan langkah kecil nan pasti, aku menyusuri
tempat asing itu. Aku berusaha mencari sakelar lampu, namun tak kutemukan.
Aku terus berjalan hingga menemukan
sebuah pintu. Kucoba membukanya, tidak terkunci. Ruangan di balik pintu tidak
kalah gelapnya dengan ruangan sebelumnya. Namun aku dapat melihat sedikit
cahaya di ujung ruangan yang lebih terlihat seperti lorong.
Aku melihatnya, aku merasakannya,
cahaya matahari, masuk melalui celah-celah mengenai wajahku. Ada sebuah tangga
di hadapanku, menuju sebuah pintu kecil yang berda di atas. Sepertinya aku
sedang berada di ruang bawah tanah.
Tanpa berlama-lama, aku menaiki
tangga itu dan membuka pintu kecilnya. Udara segar segera menyambutku. Setelah
kakiku berpijak ditanah, aku menutup pintu kecil itu kembali.
"hm...
dimana aku?" aku kembali melihat sekeliling. Aku berdiri di sebuah tempat
yang dikelilingi pepohonan. Dapat kulihat tidak jauh dari tempat itu, terdapat
sebuah gubug tua.
Situasi yang buruk. Berdiri di
tempat asing yang sepertinya tidak terjamah, lebih parahnya aku sama sekali
tidak mengingat apapun yang terjadi.
Aku ini benar-benar bodoh.
***
Normal POV
Keluar dari tempat asing itu
bukanlah pekerjaan yang mudah, namun Nakahara berhasil melakukannya. Meski
harus berjalan sangat jauh, dan beberapa kali meminta tumpangan kepada orang
asing. Tak masalah baginya, toh yang penting Nakahara kini sudah sampai di
rumahnya.
Saat melihat rumahnya Nakahara
kembali merasakan sensasi aneh. Dia merasa teramat sangat senang seolah sudah
lama tidak pulang. Tapi dia juga merasakan kesedihan yang entah apa alasannya.
"ibu, aku
pulang!" teriak Nakahara sembari memutar gagang pintu dan membukanya. Beberapa
saat berlalu dalam keheningan.
"Dari mana
saja?" Seiko, ibu Nakahara tiba-tiba muncul dari belakang membuat gadis
itu melompat terkejut.
"Ibu
mengagetkanku!"
"Ibu dari
pasar." kata Seiko masuk menuju dapur. Nakahara memperhatikan ibunya yang
baru saja kembali dari pasar, tapi kenapa tidak ada belanjaan di tangannya. Wajah
seiko juga sedikit pucat dan terlihat lebih kurus.
"Apa ibu
sedang sakit? ibu terlihat agak pucat."
"Ibu
memang sedang tidak enak badan." jawab seiko singkat. Nakahara
memperhatikan ke sekeliling. Rumah terasa lebih sepi dari biasanya. semua lampu
dimatikan, yah memang ini masih siang, tapi beberapa ruangan yang tidak terkena
sinar matahari dibiarkan gelap begitu saja. Belum lagi suasana rumah yang
seperti tidak ada penghuninya. Mungkin ibu tidak sempat merawat rumah karena
kesehatannya, begitu pikir Nakahara.
"Kau
belum menjawab pertanyaan ibu, dari mana saja kau?"
"Ah,
itu..." Nakahara teringat dengan kejadian pagi ini, saat dia terbangun di
tempat asing. Tapi, Nakahara ragu untuk menceritakannya atau tidak pada Seiko.
"Aku juga
tidak tahu dimana, tiba-tiba saja aku terbangun di tempat asing." Nakahara
memutuskan untuk menceritakannya pada Seiko. Untuk sesaat Seiko hanya diam
saja.
"Yang
penting sekarang kau sudah di rumah." kata Seiko. "Apa kau lapar? ibu
akan membuatkan makanan untukmu." Seiko bangkit dan membuka kulkas,
mengeluarkan beberapa bahan untuk dimasak.
"Tidak
perlu ibu, aku mau mandi dan langsung berangkat kerja saja." kata Nakahara
bangkit dan Pergi menuju kamarnya tidak menyadari tatapan Seiko yang tidak pernah
lepas darinya.
Nakahara memasuki kamarnya dan
segera mandi kemudian mengganti pakaiannya. Melakukan sedikit riasan simple dan
mengambil tas kerjanya sebelum mengunci kamar dan kembali ke bawah.
"ibu, aku
berangkat!" teriak Nakahara sembari memakai sepatunya. Tidak ada jawaban
dari arah dapur. "Apa ibu pergi keluar lagi?" gumam Nakahara sebelum
bangkit dan akhirnya pergi meninggalkan rumah.
***
"Makio,
aku sudah bilang padamu ratusan kali. kita bertemu pagi ini di stasiun!"
Sharie berteriak ke arah telepon genggamnya.
"Maaf,
tapi aku kesiangan." Makio yang berada saluran yang lain terdengar seperti
baru bangun tidur.
"Sigh...
kalau begitu..." Sharie menghentikan kata-katanya sesaat setelah melihat
sosok yang kini melambai-lambai padanya.
"Halo
Sharie... kau masih di situ? Halo?"
"Makio...
she is back." kemudian sambungan teputus.
to be continue...
Tag :// story
Nakahara POV
Dengan malas aku duduk di kursi tunggu dengan Otani.
Dimana aku sekarang? Yah di bandara. Mau
kemana aku? Tentu saja aku ingin segera minggat dari pulau ini. Tidak ada hal
menarik lagi yang bisa kulakukan di pulau ini.
Seluruh masalah sudah selesai tadi malam dan seperti
rencanaku, Grand Opening secara tidak langsung sudah gagal. Kalian bingung? Yah
aku juga. Biar kujelaskan dari awal.
Aku diundang ke acara pembukaan Bloody Island oleh
Yuuki temanku yang merupakan anak dari Tn. Miura, salah satu pemegang saham
pulau ini. Di Bloody Island aku bertemu dengan korban-korban lamaku, You know who, right?
Awalnya semua berjalan dengan lancar, sampai
tiba-tiba Tn. Miura menghilang dan aku dituduh sebagai dalang penculikan itu.
Belum selesai dengan masalah penculikan aku juga dituduh dalam percobaan
pembunuhan terhadap Yuuki. Teman-temanku yang mengetahui hal itu sepertinya
berusaha menolongku. Tapi sebenarnya itu tidak perlu. Yah walaupun semuanya
menjadi semakin menarik karena hal itu. Tapi pada akhirnya semuanya kembali
menjadi rumit karena ulah mereka # g
sadar diri.
Pelaku sebenarnya dalam penyerangan Yuuki adalah Vallery,
assisten pribadi Tn. Miura. Kenapa dia bisa berbuat seperti itu? Dia berkeja
sama dengan kedua pemilik saham lainnya Miss Karina dan Mr. Arystar yang
memiliki masalah pribadi dengan Tn. Miura dan mereka merupakan dalang dari
penculikan pria tua itu.
Sebenarnya Tn. Miura tidak setuju pembukaan pulau
yang kesannya terlalu terburu-buru itu. Tapi dengan alasan financial, Karina dan Arystar memaksa Tn, Miura untuk
menyetujui pembukaan itu. Mereka juga meninginkan saham Tn. Miura yang
merupakan saham terbesar di antara mereka bertiga.
Vallery yang mengetahui hal itu menawarkan diri
untuk membantu mereka mendapatkan saham itu dengan syarat Karina dan Arystar
harus bisa memberikan ketiga Golden card pada Vallery.
Kenapa Vallery menginginkan Golden card? Ayolah, itu kartu sakti di pulau ini, hanya orang aneh yang tidak menginginkannya, tapi aku tidak dihitung. Vallery menginginkan Golden card karena dia percaya pada legenda mengenai
kebangkitan vampire dengan upacara
pengorbanan di bulan purnama yang tepatnya tadi malam. Duh, bodoh sekali dia, percaya dengan legenda murahan seperti itu. Vallery ingin membangkitkan vampire yang setahu dia di simpan di ruang bawah
tanah yang hanya bisa diakses menggunakan ketiga Golden card. Tapi sayang
sekali Vallery memang terlalu bodoh untuk mengetahui bahwa benda itu palsu. Tn.Miura
sudah menyumbangkan yang aslinya ke Museum di London.
Banyak hal yang terjadi. Mulai dari penghianatan
Ryuko yang berpihak pada Karina dan Arystar. Sampai
munculnya Trio pengganggu (read : Sasuke,
Otani dan Eunhyuk). Dan puncaknya di bulan purnama
tadi malam.
Vallery dengan sedikit bantuanku berhasil
mendapatkan ketiga Golden Card. Aku melakukan hal itu hanya karena ingin
melihat sampai sejauh mana Vallery bisa menghiburku dengan rencana bodohnya.
Dia mempersiapkan upacaranya dengan cepat. Tapi, bodoh sekali Vallery
menjadikan Ryuko sebagai persembahan awal untuk membangkitkan vampire. Jika aku jadi vampire aku pasti akan merasa terhina. Hello, tentu saja karena menurutku
kualitas darah Ryuko kurang bagus.
Tapi pada akhirnya rencana Vallery gagal karena
memang benda itu palsu. Dan kalaupun asli aku juga tidak yakin bahwa rencananya
akan berhasil karena Ryuko dan Aerish yang selalu saja mengganggu rencana
Vallery, hingga membuat presentase keberhasilan menjadi nol besar.
Kegagalan Vallery berakhir pada incident MOVING
CASTLE yang saat ini sudah banyak dibicarakan oleh para pengunjung pulau. Saat
incident itu Vallery masih mencoba melarikan diri. Tapi jangan khawatir.
Seperti dugaanku, Robert berhasil menangkap Vallery saat kami sedang sibuk
bermain dengan kastil. Aku rasa penghasilan pulau ini akan bertambah dengan adanya kejadian ini, yah berterimakasihlah padaku.
Saat ini Vallery sudah di tahan oleh Robert. Dan
bagaimana dengan kedua pemilik saham yang lainnya? Mereka juga ikut ditahan
oleh Robert. Fuh, terkadang Robert itu memang menakutkan.
“Hei, apa tidak masalah jika kita pergi tanpa
pamit? Sebenarnya aku juga masih ingin berkeliling di pulau ini.”
“Jadi kau tidak ingin pergi? Dengan senang hati aku
akan membuatmu menjadi penghuni tetap di pulau ini.” Ancamku. Yah kau tahu kan apa maksudnya?
“Hiee… tidak-tidak. Aku ingin pulang. Aku hanya
tidak ingin pergi tanpa berpamitan dengan yang lainnya,” Kata Otani kecewa.
“Hmm, aku tidak bilang kita akan pulang,” Kataku datar.
Normal
POV
Peep…peep…peep
Nada dering HP terdengar secara bersamaan.
Pemiliknya spontan melihat ke gadget mereka. Ada sebuah
pesan dari Otani.
Dear
All,
Maaf
karena tidak sempat berpamitan dengan kalian. Tapi Nakahara memaksaku untuk
langsung pergi menuju bandara pagi ini. Aku pikir kami akan pulang tapi
ternyata tidak.
JUST
HELP ME!!!!
Dia
akan membawaku ke LONDON!!!!
Kalian
percaya itu? kenapa tiba-tiba dia ingin ke LONDON? Nakahara bilang dia ingin
mengambil benda koleksinya di LONDON. Apa ada yang bisa beritahu aku apa itu???
Baiklah
itu tidak penting. Yang pasti aku harus bertahan hidup sekarang. Doakan aku!!!
Note:
terima kasih untuk Tn. Miura dan Yuuki yang sudah mengundang kami ke pulau ini.
Jika sempat kami akan mampir lagi.
Bye…
End of massage
Bwahahaha.... akhirnya selesai juga project Kioku Reunion - Bloody Island
jika ada dari kalian yang bingung karena belum mengikuti dari awal, silahkan cek ke link berikut :
Other Chapter
tunggu project kami selanjutnya...
Tag :// story



